<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654</id><updated>2011-04-22T01:17:12.105+07:00</updated><title type='text'>.:: ada apa dengan [jip 94] ::.</title><subtitle type='html'>khusus memuat segala hal tentang anak-anak jip 94, UI.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jip94.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108666832182588120</id><published>2004-06-08T11:18:00.000+07:00</published><updated>2004-06-08T11:18:41.826+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Terjemahan bebas dan kacau dari artikel kiriman Ade. Mudah2an membantu dah malah tidak bikin puyeng&amp;#8230;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A Dozen Solutions to All Library Problems&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Walt Crawford&lt;br /&gt;American Libraries Columnist&lt;br /&gt;Senior analyst, Research Libraries Group&lt;br /&gt;Column for April 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghormati 1 April  dan masalah fasilitas perpustakaan, saya ingin memberikan suatu pemecahan untuk menghapuskan permasalahan perpustakaan dan mengakhiri kebutuhan akan bangunan perpustakaan baru, jika kamu mengikutinya dengan tepat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 1. Tiap-tiap perpustakaan yang baik adalah sama. Benar bagi Barnes &amp; Noble- dan  tidak semua pustakawan ingin membuat fasilitas mereka seperti halnya Barnes&amp; Nobel? Pertimbangkan berapa banyak kamu akan tabung dengan memperlakukan perpustakaan mu seperti halnya semua perpustakaan lain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Outsource: Laba= Efisiensi= Efektivitas. Kamu outsourced kebanyakan katalogmu tahun yang lalu. Kamu tidak membangun sistem terintegrasi milikmu, menerbitkan&lt;br /&gt; buku milik mu, atau membuat sistim  pengrakkan milikmu. Kenapa melakukan pengembangan koleksi lokal, karya2 referensi, atau apapun kecuali sirkulasi? Outsourcing mengambil alih&lt;br /&gt; masalah pekerja dan karyawan yang overpaid; sama  baiknya untuk perpustakaan seperti  juga untuk bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Ikuti Prinsip Pareto. Pusatkan 80% perhatian dan anggaran perpustakaanmu pada 20% pemakaimu yang mewakili 80% bisnis mu. Puaskan pemakai terbaikmu dan kamu tidak akan salah. Mereka yang ditinggalkan bagaimanapun juga mungkin tidak membayar pajak, dan tidak akan membantu ketika kamu memulai ikrar NPR-STYLE ( AL, Feb., p. 37-39). Lupakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Beri mereka apa yang diinginkan. Titik. Beli buku bestsellers terakhir dalam jumlah yang sesuai dengan permintaan. Untuk perpustakaan akademis, dapatkan  semua full-text jurnal  yang dapat kamu usahakan: Para mahasiswa menyukainya. Mengapa khawatir tentang bahan2 yang melayani generasi berikutnya? Kamu akan pensiun pada waktu itu. Apa yang telah mereka lakukan untukmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika koleksi tidak pernah beredar selama 2 tahun, buanglah. Jaga rak itu kosong untu bahan2 yang pemakai terbaikmumu inginkan. Jika tidak ada yang menggunakannya selama dua tahun, koleksi tidak akan berharga bagi para pemakaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Jangan pernah menyinggung masyarakat. Siapakah engkau membeli koleksi yang menyinggung anggota masyarakat? Sekali kamu bergerak ke suatu kebijakan koleksi tidak menyinggung, kamu tidak akan harus menjelaskan pada mereka mengapa mereka perlu memperhatikan kebebasan intelektual dan kebutuhan minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 7. Abaikan masyarakatmu. Apakah kamu mempunyai koleksi berbahasa Spanyol untuk melayani masayarakat Hispanic (Latin)? Bagaimana tentang ESL dan program orang dewasa melek huruf untuk membantu anggota masyarakat? Apakah kamu menyelidiki dan melayani kebutuhan masyarakat yang berubah2? Tidak? Kenapa repot2? Kamu yang profesional disini]. Itu mengapa mereka membayarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 8. Anak2 masa kini melakukan semuanya dengan komputer, dan mereka tidak pernah berubah. Lihatlah ke rak2.. Letakkan buku2 tentang WiFI networks dan e-book system. "Mutan2" muda itu sekarang tidak peduli dengan buku, waktu bercerita, atau apapun yang tidak ada di ponsel/PDA atau laptop. Tidak akan pernah. Apakah kamu tidak seperti itu 20 tahun yang lalu? Kamu dapat lihat gelombang masa depan: Ikuti itu atau tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Teknologi memecahkan semua permasalahan. Jika teknologi menciptakan suatu masalah, kamu hanya memerlukan teknologi lain untuk memecahkannya. Kamu harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk memperhatian solusi tekhnologi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 10. Tetap perhatikan mainan barumu. Berapa banyak dan teknologi dan alat2  baru yang sudah kamu selidiki tahun ini? Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang baru tiap 1 / 2 minggu, kamu akan tertinggal. Kamu bukanlah seperti Luditte bukan? Baru, bagus dan bersinar: Terapkan itu dalam rencana perpustakaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 11. Kamu punya MLS. Kamu dapat berhenti belajar. Apakah kamu benar-benar ingin meluangkan waktu untuk membaca buku - buku yang membosankan? Jika ada yang penting, seseorang akan memberitahumu dan bagaimanapun juga, hanya "mainan baru yang berkilauan" yang akan berarti. Program2 konferensi dan institute adalah alasan2 yang tepat  untuk minum dan makan2, tetapi barang yang dipamerkan akan  mengajar kamu segalanya yang kamu benar-benar harus ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 12. Lawan stereotipe pada tiap kesempatan. Kamu bisa menaikkan status pustakawan dengan menyediakan jasa profesional dan khusus pada  mereka yang sangat memerlukan, tapi bukankah lebih menyenangkan untuk mengeluh? Seperti yang telah didemonstrasikan para pengacara, jalur menuju sukses adalah keluhan terus menerus terhadap stereotype. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 13. Terimalah semua hal yang pasti. Terbitan serial yang tercetak sudah mati dan buku yang tercetak sedang sekarat. Tidak ada orang ingin pergi ke perpustakaan. Membaca buku adalah seni yang hilang, dan Google bias memberimu semua yang dibutuhkan seorang periset. Sudah begitu jalannya. Harus diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah semua : Lebih dari duabelas ide  ( beberapa bermanfaat dalam dosis kecil)  akan mengakhiri semua permasalahanmu ketika diambil ke hal2 yang ekstrim. Nikmati!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108666832182588120?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108666832182588120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108666832182588120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_06_01_archive.html#108666832182588120' title=''/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108599565657220946</id><published>2004-05-31T16:24:00.000+07:00</published><updated>2004-05-31T16:37:12.876+07:00</updated><title type='text'>Sahabat...</title><content type='html'>Persahabatanku berawal dari seringnya kami bersama-sama waktu kuliah, saling meminjam catatan, belajar bareng, diskusi, sampai hunting cari cowo yang lucu-lucu...&lt;br /&gt;Kami sering jalan-jalan bareng entah itu ke mall depok, blok m, nonton, sampe nongkrong bareng di danau UI, nongkrongin air danau yang tenang sambil bercerita banyak hal...atau sekedar cari jajanan enak di sepanjang margonda. Bahkan dulu pernah kok kami belajar mancing di danau UI...foto-foto bareng  di PSJ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga sering  ke kos Uci buat nonton VCD bareng-bareng...sekalian numpang bobo siang sekedar ngilangin suntuk aja..bahkan kalo ada kegiatan kami juga suka kok nginep di kos uci...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe akhirnya satu-persatu dari kami punya pacar...hehe.. lucu juga..dan walaupun dah punya pacar bukan berarti kami-kami nggak dekat lagi...Buat kami...sahabat bukanlah tempat mengikat diri dan menutup hubungan dengan orang lain, justru kami sering berbagi cerita mulai dari pacar sampai impian masa depan. Masing-masing dari kami nggak pernah berprasangka buruk satu sama lain dan mungkin ini yang membuat awet persabatahan kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sekarang kami nggak punya banyak waktu untuk bersama tapi perhatian dan rasa sayang dari seorang sahabat tetep ada...kadang persahabatan kami juga disertai konflik...tapi tetep...nggak akan mengurangi arti persahabatan  itu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah...mumpung bicara tentang persahabatan..nggak terasa dah ampir 10 tahun kita semua saling kenal...rasanya seperti baru kemarin mengenal kalian..dan rasanya baru kemarin kita ngikut JK... Semuanya  jadi kenangan manis untuk dikenang...dan bikin kita senyum-senyum sendiri ingat semua kekonyolan-kekonyolan  yang selalu menghiasi hari-hari  waktu kuliah dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah  sahabatku...sekarang kehidupan dah berbeda....jauh berbeda....dan masing-masing dari kita telah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri, dengan jalan ceritanya sendiri-sendiri. Masing-masing dari kita mencoba  membangun kehidupannya, menata kehidupannya dengan caranya sendiri...... jadi apapun segala aral melintang yang dihadapi, masing-masing dari kita pun punya cara untuk menyelesaikannya.... ..... yang  harus ingat adalah....aku masih ada...sebagai teman, sebagai sahabat, dengan segala keterbatasan yang aku miliki......cie..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;posted by Eka Arei...&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108599565657220946?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108599565657220946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108599565657220946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108599565657220946' title='Sahabat...'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108596441463884895</id><published>2004-05-31T07:46:00.000+07:00</published><updated>2004-05-31T07:53:13.906+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;Motiivasi bagi JIP94ers yang hobi menulis nih&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ada tulisan tentang Endang Rukmana, siswa SMAN 1 Serang yang beberapa waktu lalu dianugerahi "Unicef Award for Indonesian Young Writers". Ada ang menarik dari sisi kehidupannya. Masih 'anget' nih tulisannya, karena baru banget selesai saya tulis (sindrom deadline :D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah akan dimuat di rubrik MUDA Annida nomor depan (terbit Juni), tapi saya ingin terlebih dulu membaginya dengan teman-teman semua. Moga nggak enganggu ketentraman dan kenyamanan milist yak...:)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalamu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;Dee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDANG: SERIUS MENJADI PENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biodata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: Endang Rukmana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTL: Jakarta, 15 Mei 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan: SMAN 1 Serang (kelas 3 IPS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat: via SSRI, Jalan Kenanga No. 99 Kompleks PDK&lt;br /&gt;Blok A, Penancangan, Serang-Banten 42118&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto: Aku di sini dan Berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi:&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Anugerah "UNICEF Award for Indonesia Young Writers" dalam Lomba Penulisan Esai untuk Remaja yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan Unicef (2004).&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Finalis Lomba Menulis Esai "Jika Aku Jadi Presiden&amp;#8230;." tingkat SMA se-Indonesia Yayasan Indonesia Maju Bersatu ( 2004).&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Terpilih menjadi salah seorang dari 15 penulis muda Indonesia dalam "Workshop Penulisan untuk Penulis Muda" Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dengan Unicef (2003).&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Pemenang Harapan 1 Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional kategori SLTA yang diselenggarakan oleh Majelis  Pendidikan Al-Irsyad dan majalah Sabili&lt;br /&gt;(2003). &lt;br /&gt;&amp;nbsp; Juara II Lomba Karya Tulis Non Fiksi  tingkat SLTA Balitbang Depag RI Jakarta Pusat (2002) &lt;br /&gt;&amp;nbsp; Juara III Lomba Penulisan Cerita Rakyat Banten se-Banten yang diadakan Dinas Pendidikan Subdin Kebudayaan Provinsi Banten (2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya menulis untuk kebutuhan hidup, namun akhirnya menjadi keasyikan tersendiri bagi remaja yang ramah dan cerdas ini. Bahkan profesi sebagai penulis akan ia seriusi. Sempat putus sekolah karena ketiadaan biaya pada kelas 2 SMP, kemudian ia bekerja sebagai buruh pabrik untuk membantu menghidupi ibu dan adik-adiknya. Tak lama sang ibu berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW. Pekerjaan mencangkul, membersihkan ladang, dan menjaga&lt;br /&gt;koperasi sekolah dijabani Endang agar bisa menutupi biaya hidup. Ikuti deh hasil obrolan Nida dengan Endang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TAK PANTANG MENYERAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja satu ini memang sosok yang ulet. Sejak usia 6 SD ia sudah kehilangan ayah. Saat duduk di kelas 2 SMP (ketika itu Endang masih tinggal di Jakarta), ketiadaan biaya membuat ia harus putus sekolah. Ia pun bekerja sebagai buruh di pabrik daur ulang barang-barang bekas dengan honor Rp7000,- perhari. Sebagian besar honor itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adiknya, karena ia adalah anak sulung dari 4 bersaudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pindah ke Serang, barulah Endang dapat bersekolah lagi di MTsN Padarincang. Ia jalani dengan gembira meski harus mengulang kembali dari kelas 1. Karena selalu menjadi juara umum, Endang mendapat beasiswa dari sekolah. Ketika duduk di kelas dua MTsN, sang ibu (Endang memanggilnya Emak) pergi ke Arab sebagai TKW selama 2 &amp;frac12; tahun. Masa tak punya ayah dan ditinggalkan ibu itulah merupakan masa yang amat memprihatinkan bagi Endang dan adik-adik. Dua adik Endang yang masih kecil dititipkan pada tetangga. Sedangkan Endang dan seorang adiknya yang sedikit lebih besar harus mencari makan&lt;br /&gt;dan biaya sekolah sendiri, selama belum ada kiriman uang dari sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua bulan pertama sejak Emak pergi ke Arab, saya dan adik saya yang paling besar, menjadikan singkong (pemberian tetangga) sebagai makanan sehari-hari. Kami baru makan nasi, kalau ada rezeki lebih atau ada yang berbaik hati," kata Endang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selain dari beasiswa sekolah, saya juga bekerja mencangkul, atau sekedar membersihkan ladang, juga menjaga koperasi sekolah dengan honor lima ribu rupiah perbulan, membantu guru, dan lain-lain. Sampai akhirnya, atas dorongan seorang wartawan, kelas tiga MTs saya mulai menulis reportase. Honor pertama tulisan saya sebesar Rp36.000,- dimuat di rubrik Aspirasi Fajar Banten. Waktu itu saya gembira sekali, uang sejumlah itu sangat berharga buat saya," kenang Endang yang hobi membaca, menulis, merenung dan berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Endang semakin giat menulis. "Karena saat itu dengan menulis, saya dapat menghasilkan uang untuk menutupi kebutuhan hidup saya dan keluarga," ujar Endang polos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SPESIALIS LOMBA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala jenis tulisan ditulis oleh oleh Endang. Saya menulis di semua genre, reportase, resensi buku, esai/artikel, cerpen, dan puisi. Dalam waktu dekat&lt;br /&gt;Endang juga akan menulis novel. Tapi untuk sementara ini Endang mengaku memang lebih banyak menulis esai untuk dipublikasi di koran, terutama untuk lomba. Tak heran, di antara kawan-kawan Rumah Dunia (tempatnya banyak beraktifitas, red.), ia dikenal sebagai "Spesialis Lomba".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain esai yang banyak dimuat media massa, puisi dan cerpen Endang sudah ada yang dibukukan. Bersama seorang teman sekolahnya, Adkhilni, artikel-artikel Endang juga dibukukan dalam buku "Dari Donat sampai Presiden".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas Endang yang lain juga tak jauh-jauh dari dunia menulis. Saat ini Endang dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Sastra "Ketika" Sanggar&lt;br /&gt;Sastra Siswa Indonesia (SSSI) Serang, sebuah program Majalah Sastra Horison dan Ford Foundation. Karena keuletannya dalam menulis, beberapa kali Endang juga diundang mengikuti pelatihan-pelatihan penulisan tingkat nasional, seperti Writing and Publishing Skill yang diselenggarakan Majalah Horison dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) se-Indonesia, serta Pelatihan Penulis Muda dari 6 Propinsi yang diadakan YKAI dan Unicef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian lomba yang pernah diikuti, yang paling berkesan buat Endang adalah lomba karya tulis non fiksi untuk SMA tingkat nasional Depag RI. "Itu adalah&lt;br /&gt;pertama kali saya ikut, dengan kemampuan dan fasilitas yang terbatas. Dan sama sekali enggak nyangka bisa meraih juara kedua," kata putra dari Bapak Hasanuddin dan Ibu Wartih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BECAK DARI MENULIS&lt;br /&gt;Menurut Endang, uang yang didapat dari menulis, baik honor pemuatan maupun hadiah lomba, cukup untuk menutupi biaya hidup. "Saya malah sempat membeli tiga buah becak seharga dua juta rupiah. Lumayanlah, untuk hidup sehari-hari," sahut Endang. Dari lomba yang diadakan YKAI dan UNICEF bulan Mei lalu, dimana Endang sekaligus dianugerahi "UNICEF Award for Indonesian Young Writers", Endang mendapat hadiah uang lima juta rupiah. Mau dimanfaatkan untuk apa hadiah tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uang itu untuk biaya kuliah," jawab Endang. "Soalnya biaya kuliah semakin mahal, makanya saya menyarankan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan dana untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN," usul Endang. Yup, Nida juga setuju, Ndang!  Untuk pilihan studi nanti, Endang serius ingin menjadi&lt;br /&gt;penulis. Kenapa? "Sebab menulis (kata Phutut EA) adalah aktivitas yang paling funky dan seksi!" jawab Endang tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulanya saya ingin kuliah di ilmu sejarah, saya mau jadi esais sejarah seperti Ong Hok Ham. Tetapi orangnya saya kurang telaten untuk hunting data, jadi&lt;br /&gt;kurang mendukung untuk jadi sejarawan. Makanya, saya banting setir mau masuk Sastra Indonesia Tapi, saya tetap suka sejarah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh, Ndang, semoga cita-citanya tercapai dan penulis yang berkualitas! [Dee]&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108596441463884895?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108596441463884895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108596441463884895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108596441463884895' title=''/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108555824105290510</id><published>2004-05-26T14:57:00.000+07:00</published><updated>2004-05-26T14:57:21.053+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;A Dozen Solutions to All Library Problems&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size="1"&gt;By Walt Crawford&lt;br /&gt;American Libraries Columnist&lt;br /&gt;Senior analyst, Research Libraries Group&lt;br /&gt;Column for April 2004&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In honor of April 1 and the library facilities issue, I'd like to share a special set of precepts to eliminate library problems and end the need for new library buildings, if you follow them to the letter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Every good library is the same. That's true for Barnes &amp; Noble-and  don't all librarians want to make their facility just like Barnes &amp; Noble? Consider how much you'll save by treating your library just like all the other libraries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Outsource: Profit = efficiency = effectiveness. You outsourced most cataloging years ago. You don't build your own integrated systems,  publish&lt;br /&gt;your own books, or manufacture your own shelving. Why do local collection development, reference work, or anything except circulation? Outsourcing&lt;br /&gt;takes care of union problems and overpaid employees; it's as good for libraries as for any other bottom-line business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Follow the Pareto Principle. Focus 80% of your library's budget and attention on the 20% of your customers who represent 80% of your business. Satisfy your best customers (the word to use!) and you can't go wrong. Those who get left behind probably don't pay much in taxes anyway, and won't &lt;br /&gt;help when you start your NPR-style pledge drives (AL, Feb., p. 37-39). Forget them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Give 'em what they want. Period. Buy enough copies of the latest bestsellers to fill all demand. For academic libraries, get all the full-text journals you can possibly afford: Students love 'em. Why  worry about materials that serve the next generation? You'll be retired by then anyway. What did the next generation ever do for you?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. If it hasn't circulated in two years, dump it. Keep those shelves clear for the stuff your best customers want. If nobody's used it in two years, chances are it's worthless for today's top customers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Never offend your community. Who are you to purchase materials that offend community members? Once you move to an inoffensive collection policy, you won't have to explain to trustees why they should care about intellectual freedom and minority needs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ignore your community. Do you have a growing Spanish collection to serve your growing Hispanic population? How about ESL and adult literacy &lt;br /&gt;programs to help struggling community members? Are you investigating and serving changing community needs? No? Then why bother? You're the professional here. That's why they pay you the big bucks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kids these days do everything on computers and they'll never change. Out go the bookshelves. In go the WiFi networks and e-book systems. Today's young mutants don't care about books, story hours, or anything that isn't on a cell phone/PDA or notebook computer. They never will. Aren't you just the same now as you were 20 years ago? You can see the wave of the future: Surf it or drown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Technology solves all problems. If technology creates a problem, you just need more technology to solve the problem. You need to spend more time&lt;br /&gt;paying attention to new technological solutions-those are the only ones that matter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Keep shifting to shiny new toys. How many neat new technologies and devices have you investigated this year? If you're not hooking up something&lt;br /&gt;new every week or two, you're falling behind. You're not some sort of Luddite, are you? It's new, it's neat, it's shiny: You must work it into your library plans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. You have your MLS. You can stop learning. Do you really want to spend time reading boring professional literature? If something matters, someone&lt;br /&gt;will alert you to it-and, after all, it's only the shiny new toys that matter. Institutes and conference programs are great excuses for drinking and dining, but the exhibits should teach you everything you really need to know.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Fight stereotypes at every turn. You could raise the status of librarians by providing professional, tailored services to those who need them most-but isn't it more fun to complain about media portrayals of hair in buns, sensible shoes, and shushing? As lawyers have demonstrated, the path to success is constant whining about stereotypes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Embrace inevitability. The print serial is dead and the print book is dying. Nobody wants to go to a library. Book reading is a lost art in any case, and Google gives you all the research anyone really needs. That's  the way it is. It's inevitable. Live with it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There they are: A baker's dozen of deas (some useful in small doses)  that will end all your problems when taken to extremes. Enjoy! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Courtesy of &lt;b&gt;Ade Farida &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108555824105290510?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108555824105290510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108555824105290510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108555824105290510' title=''/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108450350449509845</id><published>2004-05-14T09:55:00.000+07:00</published><updated>2004-05-14T10:14:53.933+07:00</updated><title type='text'>Ksatria itu adalah....</title><content type='html'>&lt;p&gt;Ada beberapa kejahatan yang lebih kejam dari membakar buku di antaranya adalah tidak membaca buku (Jospeh Brodsky)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran buku-buku yang sudah terjadi itu merupakan pengulangan sejarah bonfire of liberties (penghangusan kebebasan) yang pernah terjadi sejak masa kedinastian Cina, era Romawi kuno, sampai abad ke-20 lalu di Eropa dan Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran buku, menurut catatan yang tersedia, telah terjadi ketika Kerajaan Babylonia yang dibangun Hammurabi (2123-2081 Sebelum Masehi-SM), dikalahkan Persia pada 539 SM. Berbagai manuskrip penting hancur akibat perang penaklukan itu. Tetapi, pembakaran buku untuk mencegah pengaruh suatu ajaran (pemikiran) dilakukan pendiri dinasti Qin di Cina daratan, Shi Huang-ti (246-210 SM). Dia memerintahkan pembakaran buku-buku Konfusian pada 213 SM. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Perpustakaan Besar Iskandariah (the Great Library of Alexandria) terbakar pada 47 SM. Ketika itu sang penakluk dari Roma, Julius Caesar, membakar kapalnya yang sandar di pelabuhan agar tak dirampas Mesir yang dikuasai dinasti Ptolemi. Tetapi, kobaran api kemudian juga memusnahkan berbagai bangunan di pelabuhan, termasuk perpustakaan yang disebutkan berisi 400.000 gulung manuskrip di atas kertas papirus. Perpustakaan itu dibangun Ptolemaeus Soter (350-283 SM) di areal pelabuhan Iskandariah untuk memelihara kebudayaan Yunani di tengah konservatisme Mesir. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Pada milenium pertama, Kaisar Romawi Theodosius (378-396 M) memerintahkan untuk menghancurkan Pustaka Besar Iskandariah, yang dibangun kembali oleh Antonius pada 41 SM. Perulangan sejarah bonfire of liberties juga terjadi di berbagai kota di Amerika dan Eropa pada abad ke-20. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Yang menonjol adalah pembakaran buku yang berbau subversif dan tidak berakar pada pandangan hidup Jerman oleh Partai Nazi pimpinan Hitler. Buku-buku dimusnahkan dalam api unggun yang panasnya mencapai 451 derajat Fahrenheit, bulan Mei 1943. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri pernah terjadi hal yang serupa sekitar Mei 2001 pada buku-buku yang dituduh berbau kekiri-kirian di Bandung dan Jakarta dan hampir-hampir saja meluas lebih besar bila tidak dibatalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonfire of liberties di abad modern ini sangat merisaukan banyak ilmuwan. Alfred Whitney (1906-1963), seorang pendidik dan sejarawan AS, dalam bukunya berjudul Esei Tentang Pendidikan, menulis bahwa buku tidak akan bisa dibakar. Ide-ide tidak akan mungkin dipenjarakan. Satu-satunya senjata yang ampuh melawan ide-ide buruk adalah dengan ide-ide yang baik. Dan sumber ide-ide yang baik adalah kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah ikut membakar atau tidak tetapi saya merasa menjadi pustakawan adalah seperti seorang ksatria pada abad pertengahan, hanya saja saya tidak mengawal bangsawan atau seoarang raja, namun saya adalah ksatria dengan tugas menjaga pusaka ilmu, sari pati kemanusiaan yang tertuang dalam sebuah kristal dengan nama "buku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak menjadi pustakawan tidak semudah seperti yang dibayangkan oleh masyarakat umum. Tentunya sadar bukan, apalagi saya berbicara dengan anda yang juga berprofesi sebagai pustakawan, atau paling tidak sesuatu yang mirip dengan pustakawan (bintang sinetron tidak termasuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas dikatakan bahwa sebuah ide yang tertuang dalam buku tidak mungkin untuk dmusnahkan walaupun secara fisik buku itu terbakar tetapi ide-ide di dalamnya akan terus berkembang, hanya satu saja cara untuk melawannya yaitu dengan memunculkan ide-ide baru yang pastinya lebih baik. Oke mungkin bukan saya yang akan memunculkan ide-ide tersebut tetapi tugas saya sebagai seorang kstaria menuntut untuk menjaga kristal-kristal itu, kelak akan diturunkan pada generasi yang datang karena dengan mereka pasti kristal itu akan beranak pinak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..."bumi boleh berputar, Sang waktu pun akan terus berjalan. Namun kita, kita akan selalu bersama, Saudaraku. Berperang dan menegakkan bendera kehormatan manusia"...(Nonot Supriyanto dalam cerpen Bendera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Iman dr berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108450350449509845?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108450350449509845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108450350449509845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108450350449509845' title='&lt;strong&gt;Ksatria itu adalah....&lt;/strong&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108433381222333674</id><published>2004-05-12T10:39:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T11:08:49.946+07:00</updated><title type='text'>Karier VS Rumah Tangga </title><content type='html'>Aku adalah seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga dengan suami satu dan anak 2 masih kecil-kecil pula...Kadang suka pusing bagi waktu, kadang suka bete juga nggak punya waktu untuk diri sendiri, sibuk ngurusin pekerjaan rumah dan ngurus anak...tapi ya mau diapain lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku suka bertanya pada diri sendiri apa yang salah dari diriku soalnya aku tuh ngerasa minim banget ilmu yang aku punya, aku pengen berkembang kayak orang-orang, pengen punya posisi yang bagus banget dan bisa punya banyak uang  hehehe...Makanya waktu aku hamil  aku niat banget ngedalamin ilmu yang lain yang aku senengin...seperti kursus jahit, atau kursus kue, kan bentar lagi aku bakalan dapet cuti 3 bulan pikirku...tapi apa daya…hari-hariku  disibuki oleh  2 anakku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali mau berangkat kursus…eh ada aja yang bikin gagal...ugh...Bahkan  untuk baca  majalah aja sulit...harus curi waktu dan biasanya mau tidur aku baru bisa baca...Jadi begitu aku masuk  kerja lagi waduh…otakku rasanya kosong banget dung...dung...mesti dicharge dulu nih...apalagi suatu kali aku  bertemu sama petinggi-petinggi di UI, fuih...bicaranya pun tingkat tinggi, sementara aku cuma terbengong-bengong walah ngomong opo sampeyan ki...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengen niatan berbisnis aja biar bisa di rumah sambil main sama anak sambil  bisa dapet duit...Wah...ternyata nggak gampang juga...ada beberapa temenku yang gagal, berbisnis itu harus punya OD alias Otak Dagang tapi juga faktor keberuntungan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah...itu yang susah...kata suamiku, kalo liat aku berbisnis banyakan buntungnya bukan  untungnya, karena aku ngelakuin tuh bisnis bukan cari untung tapi nyalurin hobi alias nyari senengnya  doang... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku  dapet order bikin souvenir pernikahan yang aku bikin sendiri. Jadinya malah buntung karena kebanyakan ide trus nggak pake perhitungan. Pernah juga dagang  jepit rambut yang dibeli di jatinegara, tapi ya buntung juga, soalnya  aku suka bingung kalo ada yang nawar...trus yang sekarang berjalan ya itu...jualan es mambo... Alhamdulillah... kali ini tiap hari aku pasti untung... Makanya tiap pagi  aku selalu berdoa supaya di beri panas...hehehe... kalo hujan mana laku esku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelamaan cuti aku jadi rada-rada bloon,  makanya  sekarang ini aku lagi  niat banget pengen belajar...aku seneng banget waktu diajak seminar sama temenku...Norak yah...Dan yang bikin aku terkesima di tempat seminar itu ada tulisan guede-guede, yang bunyinya gini..."Jangan Biarkan Otak Anda Beku, Berubah atau Punah..." wah..ini nih...nyindir banget..disaat aku ngerasa otakku kosong eh ada tulisan kayak gini...Aku harus banyak belajar lagi nih... biar bisa bicara...nggak kayak sekarang  cuma bisa manggut-manggut sambil senyum seakan-akan ngerti...padahal dalam hati...ini ngomong apa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bukan sombong dan bukannya congkak, di kantorku konon katanya akulah yang punya banyak ide...jago ngomong sehingga bisa meyakinkan orang dan katanya sih pinter...ehm...dalam hati ya itukan bisa-bisanya aku aja...makanya kadang suka dipercaya ma temen  sebagai tempat untuk bertanya...padahal selama ini keberuntunganlah yang selalu berpihak kepadaku...seperti misalnya waktu  temenku nggak bisa ngejalanin satu program. Hehehe...padahal aku sendiri juga nggak ngerti gimana caranya tapi beruntung aku punya suami yang lumayan ngerti komputer...jadilah aku  angkat telpon dan tanya padanya... dan &lt;br /&gt;temenku nggak tau itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus misal temenku atau dosen mau beli hp atau camdig baru..dia bingung mau beli yang mana, biasa kadang kalo orang udah kebanyakan duit suka kepengen yang canggih-canggih... Bertanyalah padaku... dan lagi-lagi  aku bisa menjawabnya...padahal itu juga dari suami yang kebetulan doyan banget ma teknologi hp...dan aku  suka dijelasin ma dia kalo &lt;br /&gt;di rumah...sambil garuk-garuk kepala jadi siapa sebenarnya yang pinter yah...heheheh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm...bisa nggak yah bagi waktu antara belajar dan rumah tangga...Nah..sekarang aku lagi mau belajar bagi waktu... Supaya bisa pinter dan bisa mengembangkan diri...hehe...Susah yah jadi pekerja sekaligus ibu rumah tangga yang nggak boleh ninggalin tugasnya di rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar gimanapun aku berusaha untuk masak buat suami dan anak-anak...yang simpel-simpel aja yang penting enak...Hm...taon ini aku memasuki usia 28 tahun.... hehehe...impianku harus terwujud nih taon ini...Doain yah…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by: Eka Arei, mother of three...(Red. yang satu bayi gede :P)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108433381222333674?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108433381222333674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108433381222333674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108433381222333674' title='&lt;b&gt;Karier VS Rumah Tangga &lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108417959476456557</id><published>2004-05-10T15:40:00.000+07:00</published><updated>2004-05-10T15:59:54.763+07:00</updated><title type='text'>Pustakawan Mencari Cinta</title><content type='html'>&lt;p&gt; Dari sekian banyak kejadian yang terjadi sejak saya bergabung di JIP ada satu hal yang memiliki catatan tersendiri bagi saya yaitu sebuah seremoni sekali (ya kadang kadang bisa juga sih dua atau tiga kali atau maksimal empat kali deh) pernikahan mahasiswa JIP khususnya JIP94.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan, kawinan atau walimahan memiliki beberapa fungsi loh, sebut saja fungsi religius tapi bukan itu saja bagi JIP94 bila ada yang menikah berati disitu adalah kesempatan untuk reuni...emmmm atau buat saya paling tidak makan siang/malam gratis lah lumayankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangen2an dan bertukar khabar adalah salah satu kegiatannya, biasanya nih kalo JIP94 pada ketemu di sebuah pesta pernikahan maka yang terjadi adalah pembentukan pesta di dalam pesta. Maksudnya anak JIP94 akan duduk bergerombol di sudut tertentu dan berbicara ngalor ngidul meninggalkan sang pengantikn yang gigit jari karena harus nungguin tamu yang datang padahal dia juga kepingin ikuat bertukar khabar. Nggak cukup sampai di situ ternyata kegiatan 'pesta di dalam pesta' tersebut menimbulkan efek sebuah pesta satu lagi...jadinya adalah 'pesta di dalam pesta di dalam pesta'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup betul, dan korbannya seperti yang anda duga adalah para suami dan isteri yang nggak kebagian tempat karena jelas mereka nggak nyambung dengan yang kita bicarain apalagi kalau mereka bukan anak JIP. So para suami wanita JIP 94 akan bergerombol terpisah begitu juga para isterinya membuat pesta sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya perlu di catat JIP94 termasuk banyak yang menjadi anggota club Jaz loh (make istilahnya Aryo89) entah salah atau bener nulisnya tapi setiap kali dia ngomong term ini maka yang kebayang adalah kata Jaz. Maksudnya Club Jaz ini adalah perkawinan sesama jenis, atau sejurusan sebut saja Laely dan Farid, Yuli dan Aryo serta Iyan dan Risna....juga tak lupa Eka dan Andy (ada lagi?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So sapa lagi setelah Kusi nih?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108417959476456557?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108417959476456557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108417959476456557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_05_01_archive.html#108417959476456557' title='&lt;b&gt;Pustakawan Mencari Cinta&lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108351855368934851</id><published>2004-04-13T00:17:00.000+07:00</published><updated>2004-05-03T00:50:13.090+07:00</updated><title type='text'>catatan harian seorang ibu</title><content type='html'>Hari ini  hari pertama masuk kerja... &lt;br /&gt;Rasanya berat meninggalkan 2 anakku yang lucu-lucu.... &lt;br /&gt;Belum cukup rasanya 3 bulan aku bermain-main dengan kedua buah hatiku, dan kini aku harus tega meninggalkan mereka dengan 2 orang asistenku di rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari kemarin aku melahirkan anakku yang kedua....&lt;br /&gt;Alhamdulillah ya Allah aku dikaruniai seorang putri yang lucu dan cantik....&lt;br /&gt;Putri kecilku ini bener-bener bikin aku dan Andy senewen,  bagaimana tidak, putriku harus tinggal lebih lama di RS karena kuning. &lt;br /&gt;Belum hilang rasa capekku dan rasa perih di perut habis operasi sesar harus mondar mandir RS ke rumah, 3 minggu kemudian putri kecilku harus operasi pengangkatan kista di payudara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat tangan Tuhan,  kista di payudaranya mengempis tanpa harus dioperasi. Jangankan membayangkan, mendengar kata operasi saja aku dah stress duluan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiuh... ternyata jadi ibu rumah tangga itu berat apalagi dengan 2 anak yang masih kecil-kecil dan sangat butuh perhatian.  Anak pertamaku, Naufal, sudah pintar ngomong bahkan sudah bisa nyela ibunya...&lt;br /&gt;Dari mulut mungilnya terlontar kata-kata yang lucu, ada aja celoteh yang dikeluarkannya, dasar cerewet...&lt;br /&gt;Rumah kecilku ramai dengan celotehnya...&lt;br /&gt;Naava, adiknya, sekarang  sudah bisa mengenggam dan mencoba meraih, bahkan dia sudah bisa melemparkan senyuman  dari mulutnya yang mungil. Putri kecilku ini seakan nggak mau kalah dengan  masnya, diapun sudah bisa mengoceh dengan bahasa planet, ahh...uuh... si Naufal  suka bertanya  "dedek ngomong apa..." lantas  dilantunkan nyanyian yang bikin aku tertawa "pok ame-ame lalang upu-upu, ciang makan naci, alo malem num cucu" sambil tangan adiknya dipukul-pukul...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku  cuma bisa berharap agar aku dan Andy bisa diberi kekuatan dan kesabaran untuk bisa mendidik mereka menjadi anak yang  sholeh dan berguna kelak.... bisa memberikan yang terbaik untuk mereka....amin!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penulis: Eka Arei Shanti&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108351855368934851?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108351855368934851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108351855368934851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_04_01_archive.html#108351855368934851' title='catatan harian seorang ibu'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108351916152750190</id><published>2004-04-12T12:29:00.000+07:00</published><updated>2004-05-03T00:37:02.640+07:00</updated><title type='text'>Neb. Library Uses Web to Promote Books</title><content type='html'>BATTLE CREEK, Neb. - A local librarian recently took a virtual page &lt;br /&gt;from the Omaha Public Library and began offering Battle Creek patrons &lt;br /&gt;an online book club. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The service, offered to patrons free of charge, allows them to check &lt;br /&gt;out samples of books online before taking the trip into town to check &lt;br /&gt;out a book. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Members of the club received daily e-mails that include pages, or &lt;br /&gt;even chapters, of a book that might appeal to them. New books are &lt;br /&gt;sent out on Mondays, with consecutive portions of the book sent to &lt;br /&gt;subscribers over five days. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The e-mails are provided by DearReader.com, an online service that &lt;br /&gt;prepares manuscripts and sends them to 200,000 readers around the &lt;br /&gt;country. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Members can join through libraries that subscribe to the service by &lt;br /&gt;logging onto a library's Web site. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kathy Bretschneider, director of the Battle Creek Public Library, &lt;br /&gt;said she believes the Battle Creek and Omaha libraries are the only &lt;br /&gt;ones in the state offering the online service. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subscribers to the service are asked to specify which genres they &lt;br /&gt;find most appealing. Categories include fiction, nonfiction, teen, &lt;br /&gt;mysteries, horror and science fiction. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of the books offered for preview are not yet in print, but &lt;br /&gt;posted by publishers eager to get readers interested in their new &lt;br /&gt;products. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bretschneider said she learned of the service while surfing Web sites &lt;br /&gt;of other libraries. She found the book club on the Omaha Public &lt;br /&gt;Library Web site. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Everyone is so busy," she said. "To expect them to come and stand &lt;br /&gt;around for an hour to choose a book is unrealistic. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Now you can sit at home with the cat on your lap and choose a book." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The library pays a small fee to provide the book club. At last count, &lt;br /&gt;125 people had become members through the Battle Creek Library, &lt;br /&gt;Bretschneider said. &lt;br /&gt;__ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the Net: &lt;br /&gt;&lt;a href="http://battlecreeklibrary.org "&gt;Battle Creek Library&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://chapteraday.com/library/battlecreek/"&gt;Online book club&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108351916152750190?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108351916152750190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108351916152750190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_04_01_archive.html#108351916152750190' title='Neb. Library Uses Web to Promote Books'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108087765079778503</id><published>2004-04-02T09:58:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T11:01:11.140+07:00</updated><title type='text'>::..Hidup penuh dengan pilihan..::</title><content type='html'>Wah...sudah hampir jam enam sore, dan aku baru saja mematikan komputerku di kantor. Bakalan telat lagi nih sampai di rumah. Terbayang, tawa ceria anakku yang baru berumur 10 bulan, aku jadi ingin cepat-cepat meninggalkan kantor ini. Segera setelah kubereskan meja dan mematikan AC di ruanganku, aku bergegas untuk pulang, tak lupa untuk menandai absenku di mesin absen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bis aku mulai gelisah...Jalan Raya Mampang setiap sore pasti macet, bukan karena ada yang menghambat, tapi memang karena begitu banyaknya mobil yang keluar dari garasinya. Dan kulihat, mobil-mobil itu sebagian besar hanya diisi satu orang saja....duuuhhh....betapa tidak adilnya. Aku jadi ingat cerita temanku bahwa mengendarai mobil dengan hanya diisi satu orang saja, itu sudah melanggar hak asasi orang banyak, karena menuh-menuhin jalan raya. Bandingkan saja dengan biskota di Jakarta ini, di mana satu biskota dijubeli dengan berpuluh-puluh orang, padahal kapasitas bis itu hanya 30 orang...betapa sesaknya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu adalah pilihan..(dan juga kesempatan) memakai mobil dengan AC yang dingin dan nyaman, tentunya lebih mengasyikkan dibandingkan naik biskota yang penuh, sesak dan sumpek...jadi walaupun melanggar hak asasi orang banyak, naik mobil memang lebih menyenangkan. Untung saja aku gak punya mobil, jadi aku tidak diberi kesempatan untuk melanggar hak asasi orang banyak..hehehehe...(omongan orang yang gak punya neh :-P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat lagi jam di HP-ku, sudah hampir jam setengah tujuh, bayang-bayang anakku muncul lagi, kali ini bukan dengan tawa cerianya, tapi dengan rengekannya kalau sudah mengantuk. Aku putuskan untuk turun dari bis dan menyambung dengan ojek (tadinya mau naik bajaj, tapi ojek lebih cepat sampai karena bisa lewat di sela-sela mobil yang berderet antri lampu merah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku berjalan ke arah kumpulan tukang ojek di perempatan Santa, aku melihat tukang ojek yang sebelumnya pernah aku sewa jasanya. Tampaknya dia pun sudah mengenali aku (sering ngojek di situ sih :P). Setelah aku sampaikan tujuanku, dia langsung tahu tempatnya, karena memang sebelumnya sudah pernah mengantarkan aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju rumah itulah si tukang ojek (yang aku gak tahu namanya, karena gak sempet nanya bercerita mengenai pilihan hidupnya. Awalnya sih aku cuma bertanya apakah motor yang digunakan untuk mengojek miliknya sendiri. Lalu dia mulai bercerita, bahwa motor itu dibelikan orang tuanya karena dia menganggur sedangkan dia sudah punya anak istri yang harus dihidupinya. Dia juga bercerita bahwa dia dulunya pernah kuliah (kalo gak salah tahun 1996) di jurusan perbankan D1, di sebuah sekolah tinggi yang kurang terkenal. Dia bilang dia pilih D1 perbankan karena pada masa itu lagi booming bank di Indonesia, dan tempat kuliahnya menjanjikan bahwa lulus kuliah, bisa langsung bekerja di Bank. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ceritanya juga dikatakan, bahwa orangtuanya sebetulnya tidak setuju dia mengambil D1 dan memintanya untuk sekolah D3 (kebetulan dia juga sudah diterima di Budi Luhur, sebuah sekolah tinggi informatika). Tapi dia tetap ngotot dengan pilihannya itu, dan merasa yakin selesai sekolah bisa bekerja di Bank. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu berkata, bahwa sekarang dia menyesali pilihannya itu, karena ternyata boro-boro mendapat kerja, untuk praktek kerja lapangan saja, dia harus mencari tempat sendiri. Ternyata setelah lulus, dia juga tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Disampaikan pula rasa irinya, melihat teman-teman seangkatannya, yang memilih kuliah di universitas yang jelas, sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan. Dan akhirnya dia sekarang harus menganggur, dan karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi, dia mengojek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita tukang ojek itu, aku tercenung. Betapa hidup itu penuh dengan pilihan. Plihan kita di masa ini, akan menentukan keberadaan kita di masa yang akan datang. Dulu pun aku pernah dihadapkan atas dua pilihan, kuliah akuntansi di Perbanas (aku lulus tes dan membayar uang pangkal, bahkan sudah mempersiapkan penataran), atau kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan UI (dulu aku sama sekali tidak tahu JIP itu belajar apa, aku hanya tahu dari temanku bahwa lulusan JIP bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja, aku tetap memilih kuliah di Perbanas, mungkin saat ini aku tidak akan menulis di Blog ini, tidak akan bertemu dengan teman-teman JIP yang unik dan asyik itu, tidak akan mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan bersama mereka, dan tidak akan bekerja di tempatku sekarang ini, yang banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang tidak pernah aku dapatkan di Sekolah. Tapi mungkin saja, kalau aku tetap di Perbanas, aku sekarang ini sudah bekerja di sebuah perusahaan internasional dengan gaji besar dengan fasilitas mobil, dan berkantor mewah, tapi kurang berempati terhadap kejadian di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temanku juga sering bercerita tentang pilihan-pilihan hidup mereka. Well...one thing for sure, Aku tidak pernah menyesali pilihanku untuk tetap kuliah di JIP (atau pilihan hidupku yang lain) karena saat aku bimbang memilih, aku bertanya langsung kepada yang Maha Tahu. Dan aku yakin, pilihanku ini adalah yang terbaik buatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang lagi wajah anakku, dengan senyum lebarnya (gaya malih tongtong, seorang pelawak betawi) yang memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang mulai tumbuh.....Terima kasih ya Allah....atas petunjuk-Mu lah aku telah memilih jalan yang terbaik buatku, sehingga Engkau pertemukan aku dengan teman-temanku, dengan Suamiku, dan saat ini Engkau amanatkan padaku seorang anak yang lucu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah pilihan....sekali kamu pilih, tidak ada jalan balik untuk mengubah pilihanmu....so guys, never regret for what you have chosen...jalani dengan sebaik-baiknya dan tetap mencari sisi positif dari pilihanmu, supaya bisa menghilangkan (setidaknya mengurangi) sisi negatifnya... Dan kalau kamu merasa tidak ada sisi positifnya sama sekali dari pilihanmu....berarti sudah saatnya kamu melepaskan pilihan yang lama untuk memilih yang baru....(bukan karena mentang-mentang mau pemilu....ngomongnya jadi tentang pilihan lho ya...hehehehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dicoret-coret oleh: Wiwit...&lt;br /&gt;yang tidak pernah menyesal telah memilih menjadi pustakawan dan bukan akuntan... :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108087765079778503?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108087765079778503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108087765079778503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_04_01_archive.html#108087765079778503' title='::..Hidup penuh dengan pilihan..::'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108087406938254309</id><published>2004-04-02T09:45:00.000+07:00</published><updated>2004-04-02T09:51:28.216+07:00</updated><title type='text'>Perlu Gak S2?Vol.1</title><content type='html'>Ayo sekolaaah...Masih inget kan jargon seperti itu. Sebenarnya perlu gak sih kita sekolah? Sampai lulus kuliah (entah itu S1, D3, D1, D el el) mungkin bagi sebagian besar orang masih perlu (dengan catatan yang punya biaya). Tapi perlukah kita kuliah sampai S2?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari segi untuk menambah ilmu, tentu jawabannya perlu. Karena bagaimanapun juga sekolah pasti untuk menambah ilmu, wawasan dan pengetahuan (kecuali kalau emang orangnya ndableg tetap gak dapat apa-apa selama kuliah). Walaupun juga sebenernya ilmu itu gak hanya bisa didapat dari bangku sekolah/kuliah saja sih. Tapi tetap saja sekolah/kuliah masih merupakan faktor yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau untuk memperbesar peluang kita untuk mendapatkan pekerjaan / meningkatkan karir, jawabannya mungkin. Karena katanya tahun 2004 ini AFTA sudah mulai berjalan. Dan katanya lagi orang-orang asing yang katanya juga tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Indonesia, bisa bebas bekerja di perusahaan-perusahaan Indonesia. Jadi kalau dengan gelar S2 mungkin kita bisa menyamai orang-orang asing itu (mungkin lho). Soal karir, bisa jadi karena dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, plus pengalaman kerja yang terus bertambah karir seseorang bisa meningkat dengan lebih cepat, ketimbang yang hanya bergantung pada lama kerjanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kuliah S2 itu untuk pasti bisa mendapat pekerjaan, jawabannya tidak. Perusahaan-perusahaan di Indonesia masih lebih mempercayai pengalaman daripada gelar. Jadi kalau ada lulusan S2 non pengalaman bersaing dengan lulusan S1 dengan pengalaman kemungkinan besar yang S2 akan kalah. Perusahaan itu akan berfikir dalam menggaji seorang lulusan S2 non pengalaman. Mau digaji standar S1 tapi dia S2. Mau digaji dengan standar S2, tapi dia gak punya pengalaman. Kecuali kalau lulusan S2 itu juga punya pengalaman, itu nilai plus yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bukan berarti orang yang S2 / lulusan S2 itu lebih hebat atau akan lebih dari yang hanya lulusan S1. Orang yang kuliah S2 itu mungkin hanya punya nilai plus dari segi kemauan, kesempatan dan ekonomi saja (kecuali yang beasiswa, mungkin hanya kemauan dan kesempatan saja). Tapi bukan berarti juga orang yang hanya S1 lebih hebat dari yang S2 lho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, perlukah kita S2? Yah terserah dari masing-masing individunya untuk memandang tujuan dari S2 itu sendiri. Tapi satu yang terpenting, bahwa rejeki itu bukan di tangan kita, tapi di tangan Yang Maha Kuasa. Jadi mau kita S3, S2, S1, S coret dan lain sebagainya, karir, pekerjaan, atau ekonomi kita ada di tanganNya. Kita hanya bisa berusaha, berharap dan berdoa. OKE...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;post by: Nova&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Yang kepengen S2 dan juga kepengen kerja.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108087406938254309?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108087406938254309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108087406938254309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_04_01_archive.html#108087406938254309' title='&lt;b&gt;Perlu Gak S2?&lt;/b&gt;&lt;br&gt;Vol.1'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108070677627576023</id><published>2004-03-31T11:14:00.000+07:00</published><updated>2004-03-31T11:23:12.826+07:00</updated><title type='text'>"5 Bulan Masa Perjalanan"</title><content type='html'>Sudah 6 kali aku jadi pustakawan di 6 tempat plus 5 setengah tahun aku menjadi mahasiswa UI yang akan bertelur menjadi pustakawan di masyarakat maupun komunitas tertentu. Sebenarnya muak sudah aku keluar masuk kantor yang berbeda-beda dan hanya untuk menjadi pustakawan to'. Seolah-olah hanya membuat suatu survey dan penelitian yang tidak ada hasilnya. Kalau penelitian beneran kan ada hasilnya. Dan memang ternyata, karirku sempat kacau ketika aku bekerja di sebuah instansi negeri yang top banget dah... disitu aku menjalani karir selama 2 setengah tahun. Karena satu dan lain hal, aku harus keluar, karena ya... memang tidak menjanjikan apapun. Toh, aku tetap menjadi seorang pustakawan, bukan seorang dosen. Sementara, menurutku, perguruan tinggi adalah milik dosen, bukan staff (ups...ketahuan deh). So, walau jadi kepala bagian pun, kalau bukan dosen, tetap dibayang-bayangi oleh komunitas dosen yang walaupun jumlahnya tidak banyak, namun pengaruhnya sungguh besar dan huebatd... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian, aku memang terobsesi untuk bekerja di instansi pendidikan. Sampai-sampai aku pernah menjadi anak buahnya Cak Nur walaupun hanya 2 minggu di Universitas Paramadina. Tapi disana aku hanya transit dan mengisi waktu luang, sementara aku menunggu panggilan di sebuah tempat yang lebih menjanjikan (inilah ciri khas ibu rumah tangga yang cari kerja kantoran -- ngisi waktu). Duh... jangan komentar ya untuk yang satu ini. Menurutku untuk menjadi pustakawan di instansinya cak Nur ini, sungguh membutuhkan pengorbanan tenaga dan waktu (baca deh mail tentang lowongan di Paramadina dari aku). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wah.. akhirnya aku diterima di UG (&lt;i&gt;Red&lt;/i&gt;=yang bener kayaknya UGD deh Yul :-P ) sebagai pustakawan plus. Plusnya itulah yang membuatku ketar ketir. Aku dituntut mengajar. Dan harus mengajar. Nuahhh.. ketika aku mengajar, aku kaget karena aku dituntut mengajar satu mata kuliah yang belum pernah aku jajaki di JIP dulu. Ihhhh.... mau muntah rasanya. Dan memang ternyata, di UG berlaku sistem tersebut (semua yang pernah kuliah dan sarjana harus bisa mengajarkan MK "aneh" -- maksudnya aneh: belum pernah kita belajar MK tersebut). Akhirnya aku berkesimpulan bahwa, "Bagaimana UG bisa menelorkan lulusan yang handal, kalau dosennya aja tidak menguasai MK yang harus diajarkan ke mahasiswanya". Dosennya saja tidak ngerti apa yang diajarkan, apalagi mahasiswanya. TAPI, aku tak gentar (ciee...) aku jalani dengan penuh kesabaran. Aku berusaha mencari materi yang berbobot untuk disampaikan ke MHS tanpa berpegangan pada sumber yang telah ditetapkan oleh Koordinator MK. Dan sistem yang aku jalani alhamdulillah tak ada kesulitan (walaupun gempor cari materi sendiri). Nah, bedanya dengan pustakawan media, mereka itu cari materi untuk bagian redaksi, terus selesai. Nah aku, cari materi untuk diorasikan kembali ke Mhs. Udah gitu, harus 99% relevan dengan Silabus MK. Wah.... puyeng bo'&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah kisah kasihku di UG. Aku hanya berniat untuk jadi Librarian, ternyata tuntutan lain datang menghadang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selebihnya, ada satu hal yang paling mendasar tentang "betapa murahnya harga mengajar seorang dosen, namun betapa mahalnya yang dikeluarkan oleh mahasiswa swasta untuk mendapatkan ilmu tertentu" Jelas,  disini tak ada sinkronisasi. Kalau harga mengajar dosen sangat murah, bagaimana si dosen PTS bisa meningkatkan mutu perkuliahan dan segala sistemnya terutama di Indonesia. Memang hampir sebagian besar pengajar PTS mengalami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah aku melihat situasi perkuliahan di PTS, aku tetap bersyukur, karena tak mengalami hal tersebut. Itulah mengapa PTN lebih unggul dari PTS. Jadi, janganlah merasa menyesal pernah kuliah di Sastra dengan JIP nya. Walau ketemu yang namanya Bu Irma yang terkenal dengan kekakuannya, atau dosen2 lain dengan keunikannya, ternyata mereka memang dosen yang lebih bisa diunggulkan. Dengan bukti, bahwa lulusan dari PTN lebih menjanjikan untuk tertampung sebagai tenaga kerja. So, bersyukurlah.... Karena memang menurut rekan kerja ku di UG instansi2 lebih mendahulukan lulusan dari PTN. Itulah dunia pendidikan di Indonesia..... "Akhirnya aku melihat dunia" Huek.....!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;From Yuli Maryuli&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108070677627576023?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108070677627576023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108070677627576023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#108070677627576023' title='&quot;5 Bulan Masa Perjalanan&quot;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108070618875048270</id><published>2004-03-31T11:05:00.000+07:00</published><updated>2004-03-31T11:13:25.420+07:00</updated><title type='text'>Dongeng</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, aku mengikuti pelatihan di instansi tempatku bekerja, tapi bukan pelatihan tentang perpustakaan loh. Pada pelatihan tersebut pengajarnya mendongeng (biasalah pelatihan nguantug dan capek) tapi bukan asal dongeng sih melainkan dongeng memiliki filosopi yang mendalam. Aku lupa asal dongeng tersebut dari India atau Cina, dalam dongeng tersebut dikisahkan tentang seekor rajawali yang sedang bertelur, namun salah satu telurnya menggelinding dan masuk ke tempat telur-telur ayam yang sedang dierami induknya. Induk ayam tidak mengetahui jika telur yang dieraminya salah satunya adalah telur rajawali. Beberapa waktu kemudian telur-telur tersebut menetas termasuk telur rajawali menjadi anak ayam dan anak rajawali yang sehat. Induk ayam memperlakukan sama terhadap semua anaknya walaupun ia sendiri merasa ada kejanggalan namun tidak dihiraukannya. Anak rajawali pun merasa sebagai anak ayam, demikian juga dengan anak-anak ayam yang lainnya merasa tidak ada perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari anak rajawali bersama dengan anak anak-anak ayam yang lainnya sedang bermain, tiba-tiba melintas di atas mereka seekor rajawali ….seak…seak….alangkah hebat dan gagahnya rajawali itu terbang di angkasa dan alangkah indah tubuhnya pikir anak rajawali. Anak rajawali itu terus menatap dan kagum akan kehebatan rajawali itu dan terus memikirkannya. Dan dia berpikir untuk bisa seperti rajawali itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya ketika anak rajawali sedang bermain dengan anak ayam, mereka kembali bertemu dengan rajawali, anak rajawali kembali mengagumi kehebatan rajawali sedangkan anak - anak ayam lainnya tidak peduli akan rajawali itu. Mengetahui kekaguman anak rajawali terhadap rajawali itu anak-anak ayam lainnya berkata "sudahlah kita ini kan hanya anak ayam mana bisa kita seperti dia bisa terbang dengan gagah beraninya di angkasa dan kita tidak akan sehebat dia". Anak rajawali itu pun membuang pikirannya untuk bisa seperti rajawali itu. Setiap melihat rajawali itu ia hanya menatap dan lama kelamaan keingingannya untuk seperti rajawali itupun hilang dari pikirannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktupun berlalu begitu saja anak rajawali itu tumbuh menjadi remaja lalu dewasa lalu tua dan akhirnya mati sebagai ayam, dan sampai matipun  dia tidak mengetahui kalau dia sebenarnya adalah rajawali dan tidak ada seorang (seekor) pun yang mengetahuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dia memiliki potensi yang sangat besar, namun karena ketidak percayaan dirinya  dan tidak mau berusahalah yang membuat potensi besar dalam dirinya tidak terwujud, terkubur bersama keinginan dan impiannya. Akankah kita hanya akan seperti rajawali yang sampai mati hanya sebagai ayam atau ayam yang menjadi rajawali ? kita yang menentukannya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini sangat berkesan bagiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Laely-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(yang mirip Fitria Elvy Sukaesih hihihi.. &lt;-- tambahan dari wiwit :-P )&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108070618875048270?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108070618875048270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108070618875048270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#108070618875048270' title='Dongeng'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-108014177683359054</id><published>2004-03-24T21:14:00.000+07:00</published><updated>2004-03-25T13:17:52.733+07:00</updated><title type='text'>made in India</title><content type='html'>Setiap hari melihat mamaku nonton film india di TV, juga bersahabat dengan banyak warga negara india dan bahkan sempat roomate-an sama salah satunya &lt;a href="http://www.saudiairlines.com"&gt;waktu kerja di Saudi&lt;/a&gt;, sama sekali nggak bikin aku mengira akan mendapatkan jodoh seorang indian guy bahkan sampai tinggal di India.&lt;br /&gt;Waktu masih kerja di Saudi, teman-teman banyak yang suka ngeledek, kok mau sih ama indian (beda sama teman-teman yang di tanah air, kebanyakan malah kagum, kok bisa sih dapet orang india). &lt;br /&gt;Ada juga yang bilang, kalo ketemu orang india ama ular, yang dibunuh duluan, ya si india itu. Kenapa? karena india itu diyakinin lebih culas daripada ular. ya ampun!&lt;br /&gt;Tiga tahun mengenal suami, nggak ada tuh tanda-tanda culas didirinya (duilee, suami sendiri aja dipuji-puji, deh!? hehe). Tapi mungkin karena kebetulan dia orangnya innocent. Buktinya dari rumah kekantornya aja (yang cuma 10 menit), dia dua kali ketipu supir bajaj, hueahueheh...&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, orang India memang banyak juga yang buruk perangainya. Hampir setiap hari kekerasan, pembunuhan, perkosaan, perampokan, bencana alam, kelaparan, dan lain-lain musibah kemanusiaan terjadi di daratan Asia Selatan ini akibat ulah orang India. Tapi bukankah fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia? &lt;br /&gt;Kembali lagi, kalau mau jujur, kita lebih baik mencari kebaikan mereka aja lah, nggak perlu dinventarisasi kejelekannya. Karena kita pun sebagai orang indonesia masih perlu belajar banyak dari orang-orang india ini, karena banyak contoh-contoh kebaikan yang jadi prestasi orang-orang India yang kita belum mampu menandinginya dalam banyak segi kehidupan. Gak percaya? &lt;br /&gt;Kita mulai dari segi &lt;strong&gt;pendidikan&lt;/strong&gt;? Cendekiawan kita Nurcholis Majid mengungkapkan perbandingan jumlah lulusan S2 kita dengan India, yang konon miskin, ternyata 1:60. Jadi jika ingin kualitas pendidikannya seperti mereka, kita masih harus belajar 60 kali lebih giat! Padahal peranan pendidikan ini penting guna meningkatkan kualitas manusia. &lt;br /&gt;Dari segi &lt;strong&gt;teknologi&lt;/strong&gt;, hingga saat ini hanya &lt;a href="http://www.rediff.com/us/2003/jan/03us.htm"&gt;orang asing asal India yang bisa duduk setingkat dengan orang Amerika Serikat di NASA&lt;/a&gt;. Terus, &lt;a href="http://www.hotmail.com"&gt;Hotmail.com&lt;/a&gt;, penemunya orang India, lho, &lt;a href="http://www.encyclopedia4u.com/w/webmail.html"&gt;Sabir Bhatia&lt;/a&gt; namanya. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.convergenceplus.com/mar03%20india%20telecom%2002.html"&gt;Bos Microsoft Bill Gates sampai akhirnya tertarik untuk menanamkan modalnya di India, karena negara ini mengeskpor tenaga kerja komputer terbesar dari Asia&lt;/a&gt;, yang utamanya dari kota Hyderabad, pusat pendidikan komputer negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perdagangan&lt;/strong&gt;? India berada di peringkat kedua pengkespor terbesar di Timur Tengah, sementara Indonesia di posisi 10. &lt;br /&gt;Sampai-sampai penyiar TV BBC pun orang India! &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Film&lt;/strong&gt;? Tanpa melihat kualitasnya, &lt;a href="http://www.bollywoodworld.com"&gt;Bollywood&lt;/a&gt; mampu memproduksi 1000 film dalam setahun, jauh melebihi Hollywood. Film India jadi tuan rumah di negeri sendiri. Film kita? Boro-boro jadi tuan rumah dan berkualitas. Sudah bisa diproduksi saja sudah lebih dari untung!&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebugaran&lt;/strong&gt;? Yoga yang terkenal diseluruh dunia itu, asalnya darimana lagi kalau bukan dari indiahe. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Obat-obatan&lt;/strong&gt;? India hanyalah satu negara disamping Cina yang memiliki sejumlah perguruan tinggi dimana ada fakultas kedokteran tradisionalnya. &lt;a href="http://www.indiaprofile.hcom/ayurveda/ayurvedicstudies.htm"&gt;University of Hyderabad&lt;/a&gt; menyelenggarakan program doktoral untuk Ayurvedic Medicine, pengobatan tradisional India. Padahal Jamu Nyonya Menir, yang sudah puluhan tahun belum juga menyelenggarakan kursus yang diakui Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga pendidikan resmi yang tingkatannya sejajar dengan keperawatan atau kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tenaga kerja&lt;/strong&gt;? Dimana di dunia ini yang tidak ada orang India nya? Amerika, Inggris, Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Singapore, Australia, bahkan mereka mampu menembus jaringan televisi Indonesia (pernah dengar &lt;em&gt;tak ada rotan &lt;a href="http://www.figurpublik.com/cgi-bin/figur2.cgi?page=raam"&gt;Ram Pun jabi&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;? hehe). Mereka menyebar ke berbagai bidang lapangan pekerjaan, mulai dari bawah tanah hingga luar angkasa. Mereka yang bekerja di hotel tadinya sebagai pelayan, tidak akan berhenti berjuang sebelum menjadi manager. Tekun dan ulet sekali! Tenaga kerja kita? Lebih dari 90 % yang kita ekspor rata-rata tenaga kerja yang tidak atau kurang terampil, yah sekelas TKW dan TKI lah.. &lt;br /&gt;Bahasa? Pada jaman Orde Baru kita sempat diajarkan untuk bangga dengan istilah-istilah Sansekerta, mulai dari Eka Prasetya Panca Karsa hingga Purna Karya Nugraha. Padahal isitilah-istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskrit, India, yang sebenarnya kita 'pinjam' dari mereka. &lt;br /&gt;Kalau pengen tahu nama negara yang paling bangga dengan &lt;strong&gt;bahasa dan tulisannya &lt;/strong&gt;sendiri tanpa harus ketinggalan berbahasa internasional, Inggris, India lah jawabnya! Bahasa kita? Bahasa dan huruf Jawa saja sudah lama ditinggalkan, dan huruf-huruf ABC sampai Z masih harus pinjam kan?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan agama islam?&lt;/strong&gt; Buku-buku Islam kondang banyak yang dihasilkan oleh maulawi-maulawi asal India (padahal mereka negara Hindu, sedangkan Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia). Indonesia 'cuma' pandai menterjemahkannya. &lt;a href="http://web.umr.edu/~msaumr/Quran"&gt;The Holy Quran English version, standard&lt;/a&gt;, yang dipakai di dunia Islam adalah terjemahan karya Abdullah Yusuf Ali yang asal India. The Nobel Quran and The Interpretation juga karya &lt;a href="http://www.dar-us-salam.com/a-muhsin-k.htm"&gt;Muhammad Muhsin Khan &lt;/a&gt;(indian), dosen di Madinah University. Ahli Perbedaan Agama &lt;a href="http://www.ais.org/~maftab/deedat.html"&gt;Ahmed Deedat&lt;/a&gt; yang berwarga negara Afrika Selatan juga aslinya India. Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali dikemas dalam Bahasa Inggris oleh &lt;a href="http://answering-islam.org.uk/Nehls/Ask/biblio.html"&gt;Maulana Fazlul Karim &lt;/a&gt;(indian). Dan masih banyak lagi contoh-contoh prestasi mereka yang membuat kita iri. Sementara ribuan lulusan IAIN dan Al Azhar-Cairo kita bukan apa-apa jika dibanding dengan prestasi ulama-ulama India dalam kaitannya dengan penerbitan buku berkelas internasional. Karena buku-buku kita, yang sudah mahal, ternyata hanya muatan lokal, alias untuk mereka yang mampu berbahasa Indonesia!&lt;br /&gt;Jika ingin berhasil dalam &lt;strong&gt;bisnis di Timur Tengah&lt;/strong&gt;, pekerjakan orang India, ungkapan itu tertanam kuat dalam dunia bisnis disana (mereka diyakini memiliki kepintaran sekelas orang barat dengan bayaran sekelas asia, menguntungkan, bukan?). Namun bukan hanya segi bisnis duniawi saja. Dalam persoalan bisnis ukhrawi, keagamaan, kita juga butuh banyak belajar dari mereka. Pusat Jamaah Tablig terbesar di dunia ada di daerah yang disebut Nizamuddin, New Delhi. Padahal umat Islam di Indonesia lebih banyak ketimbang di India kan?&lt;br /&gt;Orang India paling bangga dengan hasil produksinya sendiri. Mereka yang terjun di organisasi-organisasi Islam, tanpa melihat kualitas buletinnya, terpanggil untuk membelinya secara rutin sebagai pelanggan agar secara finansial organisasinya tetap eksis. Mereka tidak akan berpikir dua tiga kali untuk membeli buku-buku Islam yang terpajang di meja-meja kantor organisasi Islamnya. Mereka khusyuk setiap kali mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan oleh dai-dai, meskipun kelasnya tidak seperti Aa Gym. Orang kita? Akan menganggap khotbah berkualitas jika banyak dibumbuhi oleh lawakan-lawakan segar!&lt;br /&gt;Kebanggaan warga india akan keindiaannya juga tergambar jelas dengan masih banyaknya wanita-wanita yang mengenakan saree kemanapun mata memandang dibelahan kota Bombay ini. Kemarin waktu jalan-jalan ke mal, aku lihat sebuah t-shirt yang bertuliskan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;"you can take the indian out of india, but you cannot take india out of the indian"&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; bukan main...&lt;br /&gt;Waah, akupun langsung menatap haru pada Safa, anakku yang warga negaranya ikut bapaknya... hihihi&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belomba-lombalah kamu mencari kebajikan!&lt;/strong&gt; Begitu perintah Allah SWT. &lt;br /&gt;Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dari orang India. Seandainya tiket ke India murah, ingin rasanya teman-teman saya ajak untuk melihat dari dekat bagaimana muslim di India hidup dan menghidupkan Islam. Apa yang terpampang dalam film-film India memang berlebihan, gak pantas kita tiru, karena muatannya tidak lebih dari budaya kehidupan bebas, sebagaimana umumnya film-film kita. Namun demikian dari cerita diatas, sudah jelas bahwa kita masih harus menimba ilmu banyak dari mereka, agar lebih dewasa lagi. Kita memang perlu belajar banyak supaya bisa dewasa seperti halnya orang-orang Islam kita dulu yang berguru mendapatkan kedewasaan tentang Islam kepada Maulana Malik Ibrahim, salah satu sunan &lt;a href="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/walisongo.htm"&gt;Walisongo&lt;/a&gt; kondang yang makamnya berada di Gresik-Jawa Timur. Tahukah teman-teman dari mana asal beliau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS, waktu aku posting ini artikel, diluar lagi ada pesta gegap gempita (alat musik perkusi yang ditabuh keras-keras dan petasan dimana-mana) menyambut kemenangan &lt;a href="http://www.cricket.org"&gt;team cricket &lt;/a&gt;india atas pakistan. Well, gara-gara suami, aku jadi hobi nonton olahraga yang satu ini, dan jadi tau mesti mihak mana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-UCI-&lt;/strong&gt; dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-108014177683359054?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108014177683359054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/108014177683359054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#108014177683359054' title='made in India'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107970017330919136</id><published>2004-03-19T19:06:00.000+07:00</published><updated>2004-03-19T19:46:13.560+07:00</updated><title type='text'>..arrrrgghh tawon itu !!! </title><content type='html'>&lt;p&gt;Nah kayaknya sekarang aku mau buka sebuah rahasia. Sebenaranya nggak rahasia-rahasia amat sih karena sampe Santo anak Perancis94 aja tau. Rahasia yang ada hubungan dengan tiga orang temen kita di angkatan 94...rahasia yang berpangkal pada sebuah janji yang diingkari oleh salah satu dari tiga orang tersebut. Mau tau?...baiklah sepertinya aku udeh ga tahan lagi menahan jari2 tangan ini untuk mulai menari di atas tuts keyboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skandal ini (haa skandaaal??!!....tar dulu dong sebaiknya baca lebih lanjut dulu) terjadii sepertinya saat akhir semester genap, tak taulah semester berapa tapi tepatnya adalah akhir semester genap lah,...sesaat setelah ujian Bu Irma ,masih inget dgn Ibu dosen kita satu ini, dan bagaimana sulitnya ujian dia?...well since di sini anak JIP semua rata-rata yang baca sepertinya aku ga perlu jelasin kenapa pernah ada kelas hampir 85% mahasiswanya ga lulus dalam mata kuliah Bu Irma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh waktu itu sore-sore sehabis ujian Bu Irma aku ngerasa otak dan badan rasanya lemes banget, so ketika Taufik dan Yatna ngajak ke gedung sepuluh utk ngopi-ngopi bentaran sambil nyegerin kepala, spontan aku mengiyakan ajakannya. Ga lama di sana, si Yatna yang emg dr dulu terkenal dengan Gudang Garamnya mulai ngeluarin sebatang rokok dan menghisap pelan-pelan, aku yang dah dari SMA kelas dua berjanji ga akan merokok lagi, tiba-tiba ngerasa *cling* gitu deh...bergumam dalam hati kok kayaknya Yatna nikmat banget kayaknya semua beban ujian tadi terbawa bersama asap rokoknya....hmmm jadi kepingin nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata,...aku kayak ga sadar gitu dan tau-tau rokok yang tadi ada di Yatna sudah berpindah tangan lalu asap rokok sudah mengebul dari mulutku. Tapi sudah cuma seisep saja, ga lebih kok gitu pikirku. So aku kembaliin lagi ke Yatna dan entahku lupa kenapa waktu itu alasannya....pulang duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan fisip (kalo ga salah) aku ketemu Oca dan Eza...ya aku barengin-kan masak sih jalan misah misah nanti apa kata anak jurusan lain. Sampai di hutan sastra, hutan sastra ga kayak sekarang waktu itu maih lebih mirip hutan beneran, beberapa meter memasuki jalan setapak ke arah St. UI tiba-tiba seekor burung hitam yang kayaknya sih gede banget....brrrr terbang dr atas melintas dan sepertinya dia menabrak pucuk pohon atau apalah yang pasti burung itu kayak panik gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini nih skandalnya mulai...ga lama kok kayaknya di kepalaku ada yang nyubit-nyubit gitu...refleks aku pegang, dan tau nggak?...ternyata aku memegang seekor tawon. Sesaat aku tertegun dan ga lama aku tersadar ternyat bukan satu, tetapi ada banyaaaaak bgt tawon ngerubungi aku, oca dan Eza (belakangan kata tukang warteg ada ratusan numplek di bajuku). Pantesan burung item tadi panik kayaknya dia nabrak sarang tawon, dan karena aku make kaos item tawon2 itu malah nyerang aku...sedangkan Oca dan Eza kena batunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Skandal satu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku spontan lari,....sedangkan Oca ngikuti dr belakang...lari ke arah dua warteg yang dulu berdiri di pertigaan jalan setapak ke arah fisip dan sastra. Aku lari ke warteg yang plg kiri ke arah bapak2 yang lg gendong bayi..sambil teriak2 minta aer (maksudnya buat ngusir tawon) tapi apa coba kata bapak itu..."Sana..sana lari ke hutan sana!!" masih dendem rasanya sampe skrg kalo inget...masa aku disuruh lari ke hutan emgnya mau bikin kuburan di sana. So aku lari ke warteg sebelahnya ke arah dapurnya, kebetulan di situ ada ibu2..aku minta aer tapi tetep aja tawon ga mau lari, akhirnya ga tau dpt ide dr mana aku minta minyak jelantah dan aku balurin tubuhku dgnnya (masih dengan pakaian lengkap loh)...Alhamdulillah tawonnya ngaciiiir. Sedangkan Oca gimana? eeh dia ga mau dikasih minyak jelantah dia cuman duduk aja di pojokkan gitu...sambil nangis aku kasian juga sih ngeliatnya. Tapi mau gimana lagi. Besoknya Oca ga masuk gara2 sakit, sedangkan aku Alhamdulillah ga papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Skandal dua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masih inget Eza?...ternyata dia lari ke arah berlawanan dari aku dan Oca. Dia melarikan diri ke arah halte....nah selanjutnya di bawah ini aku cuman denger aja ya, Mungkin lebih lengkapnya Eza yang akan konform. So, Eza yang lari ke arah halte sastra dengan paniknya jelas mengundang perhatian org2 yang di sana. Setelah tahu duduk perkaranya spontan mereka membantu eza mengusir tawon2 nakal itu. Tapi ga lama mereka semua bubar karena tawon2 nakal itu yang tadinya hanya ngincer Eza juga nyerang org2 yang di halte sastra....yaa denger2 sih pada lari2an ngindar gitu deh....tgl Eza yg cengar cengir karena tawon2nya berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So begitu deh skandalku bersama Oca dan Eza....sebagian cerita ini benar tapi kalau Eza dan Oca mau nambahin dan ngurangi aku sih ga masyalah. Dan semuanya ini terjadi gara-gara aku melanggar janjiku utk tidak merokok lagi (dan itu pdhl cuman seisep loooh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah &lt;b&gt;SIAPA AKU??!!&lt;/B&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi &lt;b&gt;AKU&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107970017330919136?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107970017330919136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107970017330919136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107970017330919136' title='&lt;b&gt;..arrrrgghh tawon itu !!! &lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107969703723209726</id><published>2004-03-19T18:41:00.000+07:00</published><updated>2004-03-19T18:58:05.390+07:00</updated><title type='text'> Cara CIA Mendanai Kampanye-kampanye Demokrasi </title><content type='html'>Sebuah kantor baru dibentuk oleh Presiden Bush. Tugasnya menangani kelompok-kelompok agama. Membungkam dengan uang? Boleh jadi, dahulu pernah kok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah abad yang lalu, saat Komunisme masih dianggap musuh utama, Amerika Serikat mengeluarkan jutaan dolar untuk mendukung berbagai kelompok yang pro padanya dan anti pada musuhnya itu. Dewasa ini, musuh utamanya kaum Islamis yang biasa diidentifikasi sebagai "Muslim militan" atau"Muslim fundamentalis". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan siapa kawan siapa lawan, Geogre W Bush tak mau membuang waktu. Tak lama sesudah pidato pengambilan sumpahnya sebagai presiden baru, Bush mengumumkan terbentuknya Kantor Urusan Kelompok Agama dan Swadaya Masyarakat (White House Office of Faith-Based and Community Inisiatives) yang langsung berada di bawah kendali Gedung Putih. Menurut sebagian pengamat, kantor ini potensial untuk membungkam suara-suara lantang dan memecah belah kelompok-kelompok agama. Caranya dengan membagi-bagi uang kepada sebagian kelompok dan mengabaikan kelompok lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini terbukti ampuh di akhir tahun 1940-an, ketika CIA (Central Intelligence Agency, Badan Intelijen Pusat) melancarkan program pengacauan informasi (disinformasi). Program ini melibatkan banyak sekali lembaga swasta di Amerika. John Harwood, dalam sebuah artikel di The Washington Post (26 Pebruari 1967) yang berjudul "O What a Tangled Web the CIA Wove (Wah Betapa Kusutnya Jaringan yang Dirajut CIA)". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harwood menulis, "Adalah tidak cukup bagi AS hanya mempersenjatai para sekutunya, memperkuat lembaga-lembaga pemerintah sekutunya, atau mendanai perangkat-perangkat industri melalui berbagai program ekonomi dan militer." Dia berpendapat, "para cendekiawan, mahasiswa, pendidik, aktivis buruh, wartawan dan kaum profesional harus direkrut secara langsung melalui organisasi-organisasi swastanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel itu dilengkapi dengan sebuah diagram yang menggambarkan bagaimana seharusnya menggunakan dana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan hasil maksimal, lewat beberapa lapis penggunaan (lihat diagram). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana-dana rahasia pemerintah AS, yang jumlahnya diperkirakan ratusan juta dolar, telah diberikan oleh CIA kepada sejumlah yayasan yang digambarkan sebagai lingkaran pertama yang paling dekat dengan badan intelijen itu, di antaranya; Beacon Fund, Benjamin Rosenthal Foundation, Independence Fund, Marshall Fund, Robb Charitable Trust dan Rubicon Foundation. Sebagian dari yayasan itu memiliki kegiatan utamanya sendiri, sebagian yang lain betul-betul sepenuhnya bekerja sebagai kakitangan CIA, seperti Vernon Fund. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan-yayasan tersebut menyalurkan dana itu ke berbagai organisasi swadaya masyarakat lainnya pada lingkaran kedua. Kelompok ini di antaranya meliputi; American Federation of State, County &amp; Municipal Employees, American Friends of the Middle East, American Newspaper Guild, International Development Foundation, Perhimpunan Pendidikan Nasional, dan Perhimpunan Mahasiswa Nasional. Selangkah lebih jauh dari sumber uang yang sesungguhnya, kelompok-kelompok lingkaran kedua ini sudah sulit dihubungkan dengan CIA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kelompok dan organisasi pada lapisan kedua inilah yang kemudian menyalurkan dana-dana rahasia itu kepada lapisan berikutnya berupa kelompok-kelompok dan pusat-pusat kajian yang sudah di-oke oleh CIA. Di antara lapisan ketiga itu adalah Congress for Cultural Freedom, Foreign News Service, Inc., Universitas Harvard, International Committee of Jurists, International Federation of Free Journalists (beberapa tokoh wartawan Indonesia pernah menerima hadiah dan uang dari organisasi ini), Radio Free Europe, Universitas Southern California dan lain-lain. Organisasi-organisasi di lapisan ketiga inilah yang lalu secara bergantian menyalurkan dana kepada tokoh-tokoh tertentu di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel itu, Harwood mencontohkan bagaimana seorang tokoh tidak sekedar dibina, tapi juga terus direkrut bahkan sampai menempati posisi tertinggi di CIA. Allen Dulles, yang memimpin CIA di tahun 1950-an, adalah seorang pengacara terkemuka yang dihasilkan oleh firma hukum terkenal Sullivan &amp; Cromwell di New York. Dulles selalu memanfaatkan semua jaringannya untuk kepentingan badan intelijen itu. "Ketika ia memimpin CIA, bisnis dan semua rekanan hukumnya digunakan habis-habisan agar CIA berhasil mencapai tujuan-tujuan rahasianya," tulis Harwood. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan yayasan yang mengabdi pada CIA sangat sadar akan apa yang mereka lakukan. Namun para penerima uang rahasia di lapisan terluar tak paham benar siapa sesungguhnya donatur utamanya. Di antara mereka adalah Perhimpunan Pendidikan Nasional dan para pemimpin Perhimpunan Mahasiswa Nasional yang sama sekali tak bisa membayangkan siapa sesungguhnya sumber-sumber dana mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal pengucuran dana-dana rahasia ini, CIA tidak beraksi tanpa dasar. Badan ini menganggap kebijakannya itu "sejalan dengan kebijakan-kebijakan nasional yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Nasional sejak 1952 sampai 1954". Aksi-aksi dana rahasia CIA ini mempermalukan pemerintahan AS saat terungkapnya sandal Watergate di tahun 1970-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut hasil investigasi beberapa komite yang dibentuk oleh Senat dan Parlemen waktu itu, Kongres lalu memutuskan membentuk apa yang disebut Pendanaan Nasional untuk Demokrasi (NED, National Endowment for Democracy). Lembaga ini nampaknya dibentuk untuk mendukung setiap lembaga demokratik di seluruh dunia baik yang merupakan swadaya masyarakat, maupun pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan pejabat kementerian luar negeri AS William Blum, yang menulis buku Rogue State: A Guide to the World's Only Superpower, menjelaskan dalam sebuah artikel, "Inti gagasannya, NED akan melakukan operasi-operasi terbuka yang selama dilakukan CIA secara tertutup, yang dengan begitu, diharapkan akan menghapus stigma bahwa (setiap yang berkampanye demokrasi) ada kaitannya dengan CIA." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allen Weinstein, yang juga ikut menyusun draft pembentukan NED, menyatakan, "Banyak hal yang kita lakukan sekarang telah dilakukan 25 tahun yang lalu secara rahasia oleh CIA." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penadah utama dana-dana dari NED ini di antaranya Institut Republikan Internasional, Institut Demokratik Nasional untuk Masalah Luar Negeri, Pusat Amerika untuk Solidaritas Buruh Internasional, serta Pusat Wirausaha Internasional (yang berafiliasi dengan KADIN Amerika). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Blum, lembaga-lembaga itu mengucurkan dana ke banyak sekali organisasi yang tugasnya melakukan intervensi ke urusan dalam negeri berbagai negara. Caranya dengan memberikan dana segar, bantuan teknis untuk mengembangkan lembaga-lembaga demokrasi, pelatihan-pelatihan, materi-materi pendidikan, bahkan sampai dalam bentuk barang seperti bantuan unit-unit komputer, mesin faksimili, mesin foto-copy, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Sasaran utama penyaluran dana itu adalah organisasi-organisasi politik, organisasi massa, serikat-serikat buruh, gerakan-gerakan pembangkangan, himpunan-himpunan mahasiswa, penerbit-penerbit buku, koran-koran, media massa lainnya, dan lembaga-lembaga sejenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat strategis lainnya, Michael Dobbs menulis di The Washington Post, "Bantuan bagi (kampanye) demokrasi telah menjadi industri yang berkembang pesat di AS." USAid (US Agency for International Development) mengeluarkan dana sejumlah US$ 649 juta untuk program "bantuan demokrasi" selama tahun 2000, sebuah peningkatan yang luar biasa dibandingkan tahun 1991 yang jumlahnya US$ 165 juta. Adalah sangat masuk akal kalau muncul dugaan bahwa para penasehat NED juga terlibat dalam program-program USAid ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, bulan-bulan ini USAid sedang melancarkan program pendampingan bagi Muspida tingkat I (propinsi-propinsi) dan DPRD-DPRD tingkat propinsi dalam proses otonomisasi daerah. Bisa dibayangkan, betapa kuatnya pengaruh Amerika dalam pembentukan Indonesia baru kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, badan-badan seperti USAid yang wajah depannya merupakan bantuan pembangunan kini sudah semakin terang-terangan menjalankan operasi-operasi yang dahulu dijalankan secara rahasia oleh CIA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka duit-menduit untuk demokrasi inilah, Kantor Urusan Kelompok Agama dan Swadaya Masyarakat yang dibentuk George Bush harus dicermati. Ada tiga pertanyaan kunci yang harus dijawab: pertama, bagaimana organisasi-organisasi penerima dana-dana itu diseleksi oleh pemerintah AS?; kedua, bisakah dana-dana ini digunakan untuk membungkam suara-suara lantang dan mengadu domba kelompok-kelompok agama?; yang terakhir, apa yang menjamin bahwa dana-dana itu tak akan digunakan untuk tujuan kedua tadi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah terjadi di tahun 1967, apa yang bisa diketahui masyarakat sangat sedikit dibandingkan yang berjalan secara rahasia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: artikel Enver Masud "Aiding democracy everywhere", www.twf.org, dan majalah IMPACT International &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi &lt;b&gt;Diah "Yuli" Maryuli&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107969703723209726?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107969703723209726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107969703723209726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107969703723209726' title='&lt;b&gt; Cara CIA Mendanai Kampanye-kampanye Demokrasi &lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107958546902740152</id><published>2004-03-18T11:44:00.000+07:00</published><updated>2004-03-18T12:13:51.890+07:00</updated><title type='text'>im dying for Your Love</title><content type='html'>Email minggu lalu dari seorang sahabat lama waktu SMP, bikin saya senyum2 sambil sedikit terharu. Beberapa foto diattached dengan keterangan begini: &lt;em&gt;"Ini poto kita pas reunian tahun lalu. Masih inget nggak lu sama anak2 yang ada di poto ini? Yang paling kanan itu si Tyas, sekarang dia udah jadi perawat, sebelahnya si Alitta, denger2 sih dia kerja diperusahaan asing, sebelahnya lagi si Ndaru, sekarang jadi dosen di almamaternya, nah yang jongkok dibawah itu si Gunawan, sebulan yang lalu meninggal kecelakaan motor, sebelahnya lagi yang jongkok juga, si Joko Sutoyo, si seniman gagal, hehe. yang berdiri deket mereka itu gue dong, ganteng ya? yang disebelah gue si Sarito, minggu lalu meninggal ketabrak truk.....dst dst". &lt;/em&gt;terakhir dia bilang &lt;em&gt;"oke deh, kapan pulang ke indonesia? betah banget diluar negeri terus? cerita2 ya, nanti aku kabar-kabarin lagi siapa2 aja temen kita yang masih idup dan sudah meninggal (siapa tau bulan depan nambah lagi, ya?) itu pun dengan catatan kalo aku juga masih dikasih umur dan kesempatan. Byee..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang lain akan ngganggap aneh, kok ngomongin kematian kayak ngomongin cerita film aja sih. Memang ada beberapa orang yang mengganggap tabu untuk membicarakan tentang kematian. "Jangan ngomongin itu, ah, takut!" Kadang aku bingung, apanya yang mesti ditakutin? Takut mati? bukankah kita semua tau, kalo kita pasti mati, its just a matter of time, lahh. Takut sama cara kematiannya? Apa bedanya sih mati perlahan-lahan karena usia atau mati karena ketabrak mobil pas pulang kerja. Toh, semua proses gak ada yang enak, bahkan seorang nabipun mengalami proses kematian yang berat (baca kisah mati suri nabi Idris, dan detik2 menjelang kematian Nabi Besar Muhammad saw). Kalo kita takut akan apa yang akan terjadi sesudah mati, itu baru bener. Tapi takut aja kan gak ada gunanya, kita ya mesti prepare lah, auw!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku dan aku termasuk orang2 yang gak tabu ngomongin masalah kematian. Kita sering discuss mulai dari yang ringan2 kayak, &lt;em&gt;"aku gak mau mati belakangan, aku gak bisa hidup tanpa kamu"&lt;/em&gt; (ceilee)...sampe ke hal yang serius, kayak, "&lt;em&gt;kalo kamu mati duluan, laptop kamu boleh aku jual, gak?"&lt;/em&gt; hehe, salah, itu juga masih becanda ding... yang seriusnya gini; &lt;em&gt;"kalo aku mati, tolong jasadku jangan dikembalikan keorangtuaku, aku ingin dimakamkan secara islam"&lt;/em&gt; (suamiku mualaf). Atau hal-hal seperti, &lt;em&gt;"kalo aku mati, kamu akan kawin lagi, nggak?" &lt;/em&gt;(itu jelas pertanyaan dari isteri, biasa senengnya kan ngasih pertanyaan yang dijawab salah gak dijawab salah...hehe), &lt;em&gt;"pokoknya kalo kamu mau kawin lagi, anak kita kasih kemamaku aja." &lt;/em&gt;Biasanya dia cuma ketawa2 aja, sambil ngejitak pake talenan (sakit oiy!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngerenungin tentang kematian, bisa kan sambil senyum2. Aku sendiri bukannya cuma sekali dua kali mengalami peristiwa hampir mati, cuma kelihatannya Dia(swt) masih memberi sedikit lagi kesempatan buatku mempersiapkan diri. Well, aku sendiri ngoceh2 ngalor ngidul disini bukan dalam kapasitas menceramahi bagaimana persiapan kita seharusnya sebelum kematian menjelang (itu mah siapin  masing2 aja, atuh!). Cuma kadang aku suka mikir, kalo aku meninggal, katakanlah detik ini juga nih, setelah selesai posting ini artikel, ada berapa orang kira2 yang menangisi kematianku, ya? ada berapa orang yang akan merasa kehilangan? aku punya sih beberapa teman yang layak disebut sahabat, tapi apa mereka akan sempat hadir dan menyolati jenazahku? dan duduk agak lama untuk sekedar mengirimkan alfatehah dan doa2 ampunan juga kelapangan bagiku? terus, setelah beberapa hari, apa mereka masih menangisi atau terkenang akan memori bersamaku? lalu, lalu setelah beberapa bulan, apa masih ada yang sedih atau minimal ingat bahwa seorang uci pernah hadir dikehidupan mereka ditengah hari2 mereka yang semakin sibuk? mungkin makamku pun cuma akan dikunjungi dan dibersihkan sama keluarga dekat setahun sekali, yaitu menjelang ramadhan. Setelah itu apa? Apa bukti bahwa seorang uci pernah hidup atau memberi makna walau hanya sebentar? Kalau aku memang pernah memberi makna, lho...&lt;br /&gt;Oke, katakanlah aku termasuk orang yang layak untuk dikenang, tapi sebagai apakah aku akan dikenang? sebagai orang yang kocak tapi kadang2 nyebelin? sebagai orang bermuka jawa tapi kelakuannya batak (hehe, ada lho yang ngomong gitu kegue), atau cuma sebagai teman pelengkap, yang ada atau nggak adanya, gak ngaruh sama orang lain, atau malah mungkin ada yang masih kesel dan dendam sama aku, tanpa aku sadari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;papaku selalu mengingatkan untuk bersalaman ketika kita bertemu saudara dan sahabat, syukuri bahwa silaturahmi masih bisa terlaksana setidak2nya hingga detik itu, dan jangan lupa untuk kembali bersalaman dan meminta maap sebelum berpisah, kalau2 ketika berbicara ada kata2 yang menyakitkan hati. Jangan dipendam, semua diselesaikan saat itu juga, karena siapa tau, itu jadi pertemuan terakhir kita dengannya. Entah dia atau kita yang duluan dipanggil menghadapNya. who knows?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita selalu menyiapkan, ingin dikenang seperti apakah kita nanti kalo udah mati, kita pasti akan berbuat yang terbaik untuk lingkungan, keluarga dan sahabat. Kalau kita juga selalu berpikir, bahwa bisa aja malaikat Izrail mungkin akan datang sebentar lagi, kita nggak akan tuh nunda2 solat dan berbuat kebaikan lainnya, dan mungkin napsu mengejar dunia pun akan sedikit terkekang...&lt;br /&gt;Mengingat dan membicarakan kematian, bukan hal yang harus ditakuti, kok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-uci-&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;happy birthday to me, keep trying hard to get khusnul khotimah!&lt;br /&gt;and in memoriam for my beloved childhood bestfriend, M Duddy (Jan1976-March1991)&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107958546902740152?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107958546902740152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107958546902740152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107958546902740152' title='im dying for Your Love'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107952863719498771</id><published>2004-03-17T19:59:00.000+07:00</published><updated>2004-03-18T12:20:09.200+07:00</updated><title type='text'>TEMAN vs UANG</title><content type='html'>Seorang teman, sebut saja si X suatu waktu pernah mengeluh pada saya, &lt;em&gt;"Kok gue disirikin sama teman2 sendiri gara-gara gue kerja yah?"&lt;/em&gt;, begitu keluhnya. Kebetulan si X ini bekerja di suatu tempat yang gajinya cukup besar bahkan untuk seniornya sekalipun yang pengalaman bekerjanya lebih lama. Waktu saya tanya balik bagaimana disirikinnya, dia bilang, &lt;em&gt;"Ada yang ngomong, kok elo bisa sih kerja disitu, kan pengalaman elo masih sedikit"&lt;/em&gt;. Atau ada yang dia dengar dari orang lain seperti ini,  &lt;em&gt;"Kok si X bisa sih kerja di sana, dengan gaji sebesar itu, padahal waktu kuliah dia kan gak pintar2 amat?" &lt;/em&gt;Dan banyak lagi katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, gawat nih. Kalo sampai teman sendiri sudah berpikiran kayak gitu. Atau yang punya pikiran seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai teman? Yang gak suka kalau ada temannya sukses atau berhasil, yang tertawa atau senang kalau ada temannya gagal. Tapi kalau sedang butuh, dia mengaku2 sebagai teman. (Ini semua keluhan si X loh) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya teman itu apa sih? Menurut kamus KBBI (ilmiah dikit ah) teman itu artinya sahabat. Sahabat itu artinya apa? Ya sayangnya menurut kamus itu yah teman. Arti murninya sendiri gak ada. Mungkin banyak orang yang tahu apa arti sebenarnya, atau malah banyak yang gak tau yah?. Menurut yang saya tahu, teman itu berarti senang disaat teman senang, susah disaat teman susah. Tak pernah iri apa yang didapat teman lain. Tapi sebenarnya, teman sejati itu adalah sedih disaat teman susah, dan senang disaat teman sedih. Maksudnya adalah saat teman sedih kita berusaha untuk menyenangkannya, bukannya ikut larut dalam kesedihan, kalau teman senang kita mengingatkannya bahwa kesenangan itu tidak berlangsung lama supaya dia tidak terlalu larut juga. Bukannya tertawa diatas penderitaan teman atau sirik atas keberhasilannya. Atau mungkin ada definisi lain yang jauh lebih cocok dari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau iri karena teman berhasil (apalagi dari segi ekonomi atau bahasa kerennaya uang) wah itu kacau kayaknya. Tapi yah mungkin saja dia mengikuti Gary Cherone-nya Extreme yang lagunya &lt;strong&gt;MONEY-MY PERSONAL SAVIOUR, MONEY-MATERIAL LUST &lt;/strong&gt;hehe. Mungkin di jaman kayak gini yang hampir semunanya diukur dari tingkat kesuksesan ekonomi, agak sulit mencari mana yang teman sejati atau bahkan sahabat yang bisa bertahan lama yah. Mudah2an diantara kita gak ada yang begitu. AMIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NOVA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang gak pernah ngaku jadi anak perpust tapi pernah kerja di &lt;strong&gt;"MBAHNYA Perpust"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107952863719498771?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107952863719498771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107952863719498771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107952863719498771' title='TEMAN vs UANG'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107933593661125386</id><published>2004-03-15T14:24:00.000+07:00</published><updated>2004-03-15T14:35:31.356+07:00</updated><title type='text'>__==Apakah Mereka Peduli? Harus!!!==__</title><content type='html'>Kemarin aku harus ke rumah seorang teman di daerah Pulomas. Perjalananku ke sana kutempuh dengan naik Patas P4 jurusan Blok M-Pulogadung. Bus tidak terlalu penuh, tapi asap rokok terlihat mengepul di beberapa tempat duduk, sudah cukup membuat sesak pernapasanku. Duuh….orang-orang ini…tidak bisakah mereka lebih toleran kepada korban asap mereka. Akhirnya bus meninggalkan dari terminal dan asap rokok yang berkutat di dalam bis, sedikit demi sedikit terbawa angin yang masuk dari jendela bis. Satu kecemasan berlalu, diganti dengan kecemasan berikutnya. Bis ini ternyata disupiri oleh orang yang ugal-ugalan…Oh My God. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya untuk menghilangkan kecemasanku aku alihkan pandangan ke luar. Kulihat di sepanjang jalan, bendera-bendera partai sudah mulai dipasang. Tidak hanya di jalan, di gang-gang, di jembatan, bahkan di atas pohon tinggi (nekat juga ya orang yang memasangnya) ada bendera partai dengan berbagai warna dan lambang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kulihat juga beberapa hari ini partai-partai itu mulai obral janji, pasang aksi, di Koran, televisi, radio, pamflet dan selebaran. Kelihatannya sih hanya partai-partai yang bermodal besar yang bisa beriklan di media elektronik, karena memang, biaya iklan di media itu tidak murah. Segala upaya dilakukan oleh partai-partai itu supaya orang-orang menitipkan suaranya kepada mereka. Kalau perlu mereka memasang topeng terbagus mereka supaya dipercaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kulihat lagi penumpang-penumpang di bis P4. Mereka terlihat asyik dengan dunianya. Seolah tak terpengaruh oleh gegap gempitanya acara 5 tahunan yang menentukan kehidupan bangsa ini. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Apakah mereka peduli bahwa pilihan mereka terhadap partai dalam pemilu nanti akan menentukan arah negara ini? Apakah mereka peduli caleg yang mereka pilih akan menentukan kebijakan negara ini? Apakah mereka peduli kalau mereka salah pilih, negara-negara ini akan dipimpin orang-orang yang korup, yang tidak pedulikan kesejahteraan rakyat, dan hanya pedulikan kesejahteraannya sendiri? Apakah mereka peduli, kalau mereka salah pilih, negara ini akan dibawa ke jurang kehancuran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus! Mereka harus peduli! Tapi untuk menjadi peduli, mereka juga perlu disadarkan. Disadarkan bahwa dalam menitipkan suara mereka, mereka harus jeli dalam memilih wakilnya. Jangan sampai mereka memilih karena mereka suka dengan lambang partainya saja. Jangan sampai mereka memilih partai hanya karena mereka mengidolakan seorang tokoh, tanpa mempedulikan apakah tokoh tersebut mampu mengemban amanat yang dititipkan kepadanya. Jangan sampai mereka terbuai “jualan kecap” partai-partai dan para caleg, tanpa melihat “track record” mereka. Jangan sampai mereka memilih partai atau caleg yang jelas-jelas selama ini telah menindas rakyat. Jangan sampai mereka memilih wakil-wakil yang tidak bisa dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus bisa memilah dan memilih partai dan caleg yang mempunyai visi dan misi yang jelas. Mereka harus memilih partai dan caleg yang berpihak kepada rakyat kecil, yang bisa dipercaya, dan yang mempunyai komitmen untuk terus memperjuangkan hak rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapakah yang bisa menyadarkan mereka? Yang bisa membuka mata mereka supaya mereka bisa lebih jeli? Apakah kita semua harus shalat istikharah? (*pertanyaan dari ade di postingan sebelumnya). Yang pasti semua harus ambil peranan dan ambil bagian. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi ini harus dilakukan. Aku sudah mencoba melakukannya pada lingkup terkecil, yaitu keluarga. Tapi menggoyahkan sebuah fanatisme memang bukan hal yang mudah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Semoga saja pemilu kali ini ada partai dan caleg yang jujur, cerdas, bersih, adil, berkomitmen pada rakyat dan bisa menjaga amanat (Man…ini kan motto dari partai pilihan loe kan :-P)…amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Posted by Rakan's mom &lt;-- berusaha menepati janji untuk nulis di weblog JIP94 hehehehe..udah kan man? ci? ;-) walaupun bukan tentang perpustakaan atawa pustakawan....&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107933593661125386?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107933593661125386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107933593661125386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107933593661125386' title='&lt;b&gt;__==Apakah Mereka Peduli? Harus!!!==__&lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107925070155503700</id><published>2004-03-14T14:49:00.000+07:00</published><updated>2004-03-14T14:54:54.546+07:00</updated><title type='text'>the price of loyalty</title><content type='html'>&lt;img src="http://www.ronsuskind.com/suskindtemplates/images/priceofloyalty/suskind_thumb.gif"&gt; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thepriceofloyalty.ronsuskind.com/"&gt;THE PRICE OF LOYALTY &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;George W. Bush, the White House and the Education of Paul O'Neill &lt;br /&gt;By Ron Suskind &lt;br /&gt;348 pages. Simon &amp; Schuster. $26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waahhhh, siapa yang nyangka kalo ternyata pak Bush itu sudah merencanakan untuk menggulingkan presiden Iraq, pak Saddam Husein jauh-jauh hari sebelum kasus 11 September. itu kata sumber yang bisa dipercaya, lho, yaitu mantan Menteri Keuangan Amerika &lt;a href="http://www.pauloneill21.com/"&gt;Paul O'Neill&lt;/a&gt;. pernyataan itu dan ada beberapa pernyataan kritis lainnya mengenai pemerintah Bush dimuat dalam buku yang ditulis mantan jurnalis harian Wall Street Journal, &lt;a href="http://www.ronsuskind.com/newsite/"&gt;Ron Suskind &lt;/a&gt;yang berjudul "&lt;a href="http://thepriceofloyalty.ronsuskind.com/"&gt;&lt;strong&gt;The Price of Loyalty&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;" dan diterbitkan Januari lalu. buku ini sih katanya &lt;a href="http://query.nytimes.com/gst/fullpage.html?res=9D01E6D7143BF937A35751C0A9629C8B63"&gt;di Amrik sono bikin kaget dunia politiknya&lt;/a&gt;...hehe, gue aja kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang serunya, O'Neill ini udah dipecat dari jabatan menteri keuangan lebih dari setahun yang lalu. ia nggak cuma ngasih wawancara yang panjang lebar untuk bukunya itu di stasiun TV CBS-News, tapi juga menyerahkan dokumen setebal 20 ribu halaman kepada Ron Suskind, yang berisi notula dari rapat-rapat Dewan Keamanan Nasional. jadi ceritanya, sebagai menteri keuangan yang O'Neill adalah salah satu anggotanya, di rapat pertama dewan tersebut, beberapa hari setelah Bush diambil sumpahnya sebagai presiden Januari 2001, sudah membahas masalah Irak!! hebat, ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul juga ngejelasin kalo Presiden Bush digambarkan seringkali tidak ingin tahu, tidak melontarkan pertanyaan, selalu mengikuti agenda rapat yang telah ditentukan terlebih dulu, seperti rencana menggulingkan Saddam Hussein. di buku ini juga Ron Suskind menyertakan nota atau surat keterangan dari bulan-bulan pertama masa pemerintahan Bush, yang berjudul "rencana untuk Irak setelah Saddam". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dokumen rahasia lainnya yang bersangkutan dengan Irak, jauh hari sebelum serangan 11 September mengatur antara lain bagaimana nasib ladang-ladang minyak Irak. Ketika itu telah ditentukan peran berbagai konglomerat minyak internasional. wahhh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata Paul tentang pemerintahan Bush adalah kalo Bush mimpin rapat dia digambarkan sebagai seorang buta yang memimpin pasukan yang terdiri atas orang-orang tuli &lt;em&gt;''a blind man in a roomful of deaf people''&lt;/em&gt;. wakil Presiden Dick Cheney dan penasihat politik yang sangat berpengaruh di belakang layar, &lt;a href="http://www.time.com/time/pow/article/0,8599,388523,00.html"&gt;Karl Rove&lt;/a&gt;, menurut O'Neill adalah pemimpin di dalam Gedung Putih, yang bertugas melindungi presiden dan menuntunnya ke arah yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O'Neill juga berpendapat, selama 23 tahun masa jabatannya di Departemen Keuangan Amerika, nggak pernah tuh ditemukan bukti meyakinkan bahwa Saddam Hussein punya senjata pemusnah massa yang mengancam keamanan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld sebelumnya nyoba mempengaruhi mantan menteri keuangan itu untuk tidak bekerja sama menulis buku yang menampar muka pemerintahan Bush. Gedung Putih pun secara tidak langsung, begitu juga berbagai politikus Partai Republik, memulai ofensif dengan mencoba menggambarkan O'Neill sebagai mantan menteri gila yang tidak mengerti bidangnya dan sekarang mencoba membalas dendam karena dipecat. tapi, guys, O'Neill itu veteran pemerintah Republik di bawah Presiden Richard Nixon dan Gerald Ford dan sebagai presiden direktur konglomerat multinasional &lt;a href="http://www.alcoa.com/global/en/home.asp"&gt;Alcoa&lt;/a&gt;, yang dulu dipuji sang presiden sendiri sebagai pakar hebat, maka alasan yang dipakai pihak Bush sekarang kayaknya sih nggak akan bisa meyakinkan banyak orang...&lt;br /&gt;gimana tuh pak Bush?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buku yang setebal 348 halaman dengan bahasa Inggris ini (iyalah, masak pake bahasa Urdu!) bisa dibeli dengan harga 'cuma' US $26 di &lt;a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/tg/detail/-/0743255453/103-0562770-3456600?v=glance"&gt;amazon&lt;/a&gt;, soalnya kayaknya belum tersedia deh di Jakarta, tapi nggak tau juga deh. &lt;br /&gt;beli sendiri, ya, gak boleh pinjem!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-uci- yang punya banyak buku tapi pelit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107925070155503700?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107925070155503700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107925070155503700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107925070155503700' title='the price of loyalty'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107900165386379906</id><published>2004-03-11T17:29:00.000+07:00</published><updated>2004-03-11T18:10:14.826+07:00</updated><title type='text'>Capres dan Pustakawan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Kalau Ade Farida masih merasa bingung untuk nyolok partai mana dalam pemilu ini, saya malah membayangkan bila saja ada seorang pustakawan yang mencalonkan dirinya menjadi salah satu capres kira-kira programnya apa saja ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustakawan sebagai capres hi hi hi ga mungkin lah yau. Ya mungkin aja sih tapi rasa-rasanya tidak untuk saat ini, bahkan di Amrik sana prestasi seorang pustakawan dalam dunia politik sebatas menjadi isteri presiden...itu loh si Barbara B (betul khan?), lumayanlah walau hanya menjadi isteri...tapi di balik setiap pria ada wanita bukan? So Pak Presiden Amrik yang terhormat anda ga mungkin jadi seperti sekarang ini kalo ga ada pustakawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti &lt;a href="http://www.berandarumahkita.com"&gt;Bu Labibah&lt;/a&gt; bilang sebenarnya politik adalah jalan terbaik untuk memajukan dunia perpustakaan Indonesia. Apa bu? political willnya kurang ya pemerintah pada dunia perpustakaan di Indonesia. Ya sih (gaya Dian Sastro) karena membenahi dunia perpustakaan sama saja dengan membenahi atmosfir dunia pendidikan kita, dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Perlu kesungguhan baik dari kitanya (pustakawan)...masyarakat dan yang paling penting dukungan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari pemerintah? dukungan apa sih kira2 yang mampu menjadikan perpustakaan Indonesia tuan rumah di negerinya sendiri? Kalau ada wartawan bertanya itu pada saya terus terang saya bingung jawabnya.....kalo yang lebih mahal banyak (gaya iklan Hit). Kenapa bingung? ya karena saya masih menjadi bagian dari pustakawan individu, artinya untuk menjadi pustakawan lebih luas saya belum sanggup, karena penghasilan saya sebagai pustakawan sungguh minim sekali bila mengejewantahkan diri saya untuk membangun masyarakat mencintai perpustakaan. Dengan kata lain menjadi PNS bagi pustakawan memang agak mengecewakan secara materi. Sayangnya itu juga tejadi pada pustakawan saja, namun juga pada profesi laen yang memiliki NIP....aduh UUD* deh jadi malu nih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So....marilah bermimpi tahun ini perpustakaan menjadi lebih baik setelah pemilu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Ujung-Ujungnya Dodol :"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by &lt;a href="http://www.abhicom2001.tk"&gt;&lt;b&gt;Iman&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107900165386379906?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107900165386379906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107900165386379906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107900165386379906' title='&lt;b&gt;Capres dan Pustakawan&lt;/b&gt;'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107898184187495950</id><published>2004-03-11T12:08:00.000+07:00</published><updated>2004-03-11T12:15:07.280+07:00</updated><title type='text'>Bingung? Sholat istikharah dulu kali yeee</title><content type='html'>Hari ini hari pertama kampanye buat semua partai yang ikut pemilu. Pas didepan kantor ade, dah siap rombongan partai dengan artibut atribut partai tetapi dengan nuansa beda. Banyak bunga-bunga dengan design yang enak diliat paling enggak ada bunga-bunganya. Mereka yang rencananya akan pawai hari ini sudah siap dengan lagu-lagu mulai dari dangdut, keroncong, pop sampe marawis, kebetulan dari meja kerjanya ade kedengeran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi tau enggak? Sampe saat ini ade belom tau mao nyoblos apa nanti atau siapa. Abis banyak banget siiich. Ada sich yang mengena dihati tapi belom sreg. Bingung? Sholat isthikharah dulu kali yeee... Semoga aja negara ini bisa di pimpin sama orang-orang yang "bisa dan pantes jadi pemimpin"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by AdeFarida...nyang kerja di kantor perwakilannya jorje bush :P&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107898184187495950?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107898184187495950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107898184187495950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107898184187495950' title='Bingung? Sholat istikharah dulu kali yeee'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107851617996020439</id><published>2004-03-06T00:55:00.000+07:00</published><updated>2004-03-06T13:14:11.686+07:00</updated><title type='text'>blogger = penulis?</title><content type='html'>Kayaknya udah banyak, deh buku-buku tentang teknik menulis yang lahir dari para pengarang ternama di bumi pertiwi tercinta makmur sejahtera ini. Rata-rata bersemangat sekali, baik dalam judul maupun ketika memberikan kiat-kiatnya. &lt;strong&gt;Mengarang Itu Gampang&lt;/strong&gt; (Arswendo Atmowiloto); &lt;strong&gt;Yuk, Menulis Cerpen, Yuk &lt;/strong&gt;(M. Diponegoro), &lt;strong&gt;Menggebrak Dunia Mengarang &lt;/strong&gt;(Eka Budianta), cuma beberapa contoh saja. Tapi apakah dengan lahirnya banyak buku tersebut dibarengi juga dengan lahirnya banyak penulis? belum tentu lah yaw..&lt;br /&gt;Well aku gak bermaksud pesimis, karena dalam pengamatanku, masyarakat kita lebih terbiasa dengan budaya oral. &lt;strong&gt;Bicara-Dengar &lt;/strong&gt;bukan &lt;strong&gt;Baca-Tulis &lt;/strong&gt;(setuju, nggak?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat kisah akan seorang teman yang menjadi volunteer di salah satu LSM di jakarta, orasinya hebat sekali, bisa 'membakar' semangat yang muda dan bikin yang tua-an manggut-manggut setuju. Akupun memberikan ide agar dia menulis semuanya dalam bentuk artikel dan mengirimkannya ke media, lumayan kan buat nambah-nambah beli susu bayinya. Tapi apa jawabnya, "&lt;em&gt;wah kalo nulis gue nggak bisa, man, gue udah pernah nyoba, tapi ternyata nulis itu susah, ya?"&lt;/em&gt;" keluhnya. "&lt;em&gt;Lho, bukannya elu sering dan jago banget berorasi, berpidato, dan memprovokasi, hehe?&lt;/em&gt;" pancingku,  "&lt;em&gt;iyaa, tapi menulis itu kan lain...&lt;/em&gt;" jawabnya cuek... waahhhh &lt;br /&gt;itu hanya salah satu contoh dari masyarakat kita yang tak terbiasa menuangkan ide-idenya dalam bentuk kata-kata, menyusun kalimat, dan menjadikannya satu gugusan alinea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu soalnya, sebenarnya situkang provokasi tadi, maaf, teman saya itu tadi sudah punya modal, pengetahuan yang lumayan luas dibidangnya. Tapi, memang modal saja belum cukup. Dia juga mesti punya keberanian untuk memulai. seperti halnya berdagang, ya jangan takut kalau nantinya gagal dan merugi. Begitu pula dalam hal menulis. Modal sudah ada, tinggal menuangkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, untuk pustakawan sendiri, bukankah modal kita jauh lebih banyak dibanding profesi apapun? Sumber ilmu dalam bentuk buku, koran, majalah, multimedia, internet (masa mau aku sebutin semua?) ada didepan matamu, nak. tapi coba hitung, ada berapa sih pustakawan yang punya profesi dobel -juga sebagai penulis- di indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo dipikir-pikir, menulis itu ibarat belajar naik sepeda. Gak ada orang yang tiba-tiba aja bisa mengendarai sepeda langsung ngebut plus ngetril. Awalnya mungkin sempoyongan atau malah nabrak pohon dan tembok, bahkan orang yang sedang berjalan. Lutut terluka. Belum sembuh, udah nabrak lagi. Luka lagi. Belum lagi kalau menabrak orang, dapat bonus: bentakan, cacian, dan mungkin tempelengan alias bogem mentah! hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, its all about tradition, menurutku. Seseorang yang dibesarkan dikeluarga yang gemar membaca dan menulis, kemungkinan besar akan banyak terinspirasi dan mempunyai bakat besar dalam hal tulis menulis. Masih segar diingatan kita kisah &lt;a href="http://www.eramoslem.com/ar/kg/41/9060,1,v.html"&gt;&lt;strong&gt;Faiz&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;, putra tersayang Mbak Helvy, yang bisa kita jadikan contoh disini. &lt;br /&gt;Tapi tau, nggak, apa yang menjadi tradisi dimasyarakat kita? Dalam komunitas prismatik --masyarakat transisi dalam terminologi ahli politik asal Amerika, &lt;a href="http://webdata.soc.hawaii.edu/fredr/gamtxt.htm"&gt;&lt;strong&gt;Fred W. Rigg&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;--gak jarang orang menenteng buku hanya supaya dipandang sebagai orang terpelajar! (well, face it, guys, our society are like that)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, fungsi buku, adalah bagaimana ia mampu mempengaruhi orang-orang yang membacanya. Kalau orang hanya sekedar membaca tapi tidak mengubah apa-apa terhadap dirinya, ya, sama juga bo'ong. Artinya, orang tersebut tak faham dengan apa yang dia baca. Membaca mesti bisa mempengaruhi dan/atau mengubah pola pikir dan pola tindak/perilaku seseorang. Bila ia sudah menjadi pembaca yang ''berhasil'', maka ia bisa maju selangkah lagi: &lt;strong&gt;berpotensi menjadi seorang penulis&lt;/strong&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari kita lihat, manfaat apa yang bisa didapat dalam menulis dibanding dengan budaya oral dalam bentuk ceramah, khotbah, pidato atau orasi. Bila si tukang provokasi alias temen saya tadi (kalo lu baca artikel ini, maap ya hehe), berorasi di depan podium, bisa jadi ditonton dan didengar oleh puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan orang. Namun, tingkat efektivitas untuk mengubah pola pikir dan pola laku seseorang tidaklah besar. Orasi yang menggebu-nggebu misalnya, mungkin bisa ''membakar'', dalam suasana yang penuh emosional, pada saat yang bersamaan. Tapi, ketika pulang ke rumah masing-masing, kembali dengan kesibukan masing-masing, dan segera akan terlupakan. Tunggu orasi berikutnya, dan segera terlupakan kembali. Pesan lewat oral nafasnya tidak panjang, sebatas jarak podium ke rumah. Betul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat berbeda dengan budaya tulis. Bila Anda menulis buku misalnya, maka karya tersebut akan dibaca oleh puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan umat manusia. Bisa jadi dibaca oleh generasi ke generasi. Lihatlah karya-karya &lt;a href="http://www.ghazali.org/"&gt;&lt;strong&gt;Al-Ghazali&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; (1058-1111 M). Karya legendarisnya, ''Ihya Ulumuddin'' dan ''Bidayatul Hidayah'', sampai sekarang dicari dan dibaca orang. Karya-karya lainnya, yang jumlahnya mencapai 200-an, juga masih diterbitkan oleh berbagai penerbit. Padahal, karya-karya tersebut ditulis pada abad 12, lho! (kalo gak salah ya, hihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus maksud dari judul di atas itu apa? Ok, kalo pertanyaannya sudah sampai disitu, berarti kita akan membahas sekilas dunia per-blog-an dan dunia tulis menulis. Kalau kita nge-link (istilahnya) dari satu blog ke blog lainnya, kita akan temukan berbagai macam jenis blog. Mulai dari yang isinya iptek, resep masakan, puisi-puisi, dan lain-lain, tapi yang paling banyak tentunya, diary atau semacam buku harian. Disini aku tidak berniat membahas dari segi kecanggihan layoutnya, lho. Di sini aku akan fokus ama isi tulisan diblognya, kadang-kadang aku nemuin banyak banget postingan yang 'nggak layak' muat (maklum, diblog kan gak ada yang ngedit, tinggal tulis, publish, jadi deh). Dalam arti, kalo dikirim kemedia manapun, walau medianya dibayarpun tetep mereka gak bakal mau muat tuh artikel. hehe. Aku nggak bermaksud sinis, lho. Jangan ada yang ngerasa diomongin, ya (ge-er aja). Tapi dengan 'terkagum-kagum', aku tetap akan membaca tiap-tiap blog itu sampai habis, malah kalau bisa dari postingan pertama sampai terakhir. Kenapa? disitulah daya tariknya, dimana se &lt;em&gt;orang biasa&lt;/em&gt; yang mau belajar dan terus mencoba untuk menuangkan apa yang ada dikepalanya dalam bentuk tulisan dengan percaya diri (karena inilah salah satu kunci dari keberhasil seorang penulis). Dan tidak saya pungkiri, bahwa di tiap blog yang saya baca tsb, saya bisa melihat proses metamorfosa yang menakjubkan. Semacam perkembangan menuju arah perbaikan, baik dari segi gaya penulisan, mutu isi tulisan, dan tema yang diangkat; walau mungkin makan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, boleh nggak aku menyimpulkan bahwa &lt;strong&gt;blogger = penulis&lt;/strong&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps : cuma bedanya gak dapet honor, ye?&lt;br /&gt;pss:  hehe, betah banget sih baca tulisan gue panjang2 gini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini dicoret2 pas malem2 oleh si uci.&lt;br /&gt;yang=kuliah di jip tapi nggak kerja di perpustakaan, seneng nulis tapi belum pernah dikirim kemedia manapun, seneng jadi pengamat tapi lebih banyak sok taunya.. maap ya, kalo gaya nulisnya ngasal, masih dalam tahap belajar...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107851617996020439?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107851617996020439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107851617996020439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107851617996020439' title='blogger = penulis?'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107846710914247086</id><published>2004-03-05T13:10:00.000+07:00</published><updated>2004-03-05T13:55:13.216+07:00</updated><title type='text'>::goyang ngebor gaya Hari::</title><content type='html'>Waktu kuliah dulu, selain sebagai penyimpan informasi dan pendidikan informal saya diberitahu bahwa perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai tempat rekreasi. Perpustakaan sebagai tempat rekreasi? wah pasti banyak yang nggak percaya. Ya memang kalo perpustakaannya di Indonesia kayaknya susah untuk membayangkan perpustakaan memilik fungsi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama perpustakaan umum, di luar negeri perpustakaan di tata sedemikian rupa sehingga tidak terkesan angkuh dan membosankan jadi sepertinya untuk masyarakat sekitar datang dan sekedar dan duduk-duduk menikmati ruang publik (perpustakaan) sangat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya walaupun memiliki penataan dan tujuan fungsi yang kurang (tidak bertujuan sebagai tempat rekreasi) perpustakaan di Indonesia tidak langsung juga dapat berfungsi sama. Ketika saya kuliah saya biasa melepaskan kepenatan dengan hanya duduk-duduk di perpustakaan pusat UI (kebetulan bersebelahan dengan jurusan saya) sambil, bila ada sedikit lebih uang, nyewa internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kerjapun saya memperhatikan bahwa tidak perlu perpustakaan umum, untuk perpustakaan khusus seperti tempat kerja saya sekarang bisa juga berfungsi sebagai tempat pelepas lelah dan kepenatan bahkan mushola kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam tingkah biasa dilakukan, dari ngobrol keras-keras sampai nonton Amanda Lewis. Saya ingat ketika magang di Pusdok Sindo RCTI, salah satu presenter yang sampai sekarang masih sering terlihat di layar RCTI biasa datang ke perpustakaan diantara sela-sela waktunya. Ketika itu kebetulan posisi saya persis di sebelah pintu masuk yang bila dibuka mengeluarkan suara besi bergesekan yang lama tidak pernah di beri oli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari dia datang dan hanya berdiri di pintu sambil memainkan pintu yang terus terang agak mengganggu saya, bunyinya itu loh. Tiba-tiba di antara bunyi 'ngek ngek' ada bunyi laen ...'preeeett'. Wah dia kentut, saya hanya bisa melotot maklum deh posisi saya khan magang. Dia dengan lugunya berkata "Eh kedengeran ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He he he saya tersenyum miris sambil jalan ke arah jendela mencari angin segar dan bergumam dalam hati : bukan kedengaran saja tapi juga kebauan tauk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada-ada saja ya? wah kalo anda menjawab iya berati anda harus membaca kelanjutan dari cerita saya ini. Sekarang saya bekerja di perusahaan konsultan di Jakarta, masih sama dengan kantor saya yang dulu-dulu yaitu sebagai pustakawan. Karena load kerja di perusahaan konsultan kadang sangat berat, perpustakaan akhirnya juga menjadi tempat pelarian bagi teman-teman yang stress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya sebut saja Lari juga biasa datang kesini dan melakukan hal-hal 'luar biasa' utk melepas stressnya. Mau tahu? dia biasa joged gaya Inul di samping saya, atau kalo nggak gaya Inul ya gaya apalah pokoknya yang menjijikkan gitu deh, bahkan Inul pun akan jijik bila melihatnya (he he he sori Lar) daaaaaaaan bagian yang paling membuat saya jijik adalah ketika joged dia akan menempelkan (maaf) bagian 'belakang' tubuhnya ke saya....pelecehan terhadap pustakawan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran kalo memang untuk melepaskan lelah kenapa sih harus melibatkan pustakawan? apa tidak cukup duduk rapih dan nonton TV? satu lagi tingkah seorang teman sebut saja sebagai oknum, biasanya dia bila muncul di perpustakaan akan entah menggelitiki, menoel-noel atau membanding-bandingakan gemuk mana dia atau saya....satu lagi kisah yang tidak pernah terungkap pelecehan terhadap pustakawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bila memang perpustakaan adalah bagian dari tempat rekreasi atau tempat melepas lelah saya sih ok ok saja, tapi toloooong janganlah bapak-bapak atau ibu-ibu pembaca melibatkan pustakawan seacara fisikal....ga tahaaaan atuuuuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari &lt;a href="http://www.abhicom2001.blogspot.com"&gt;blognya iman&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107846710914247086?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://abhicom2001.blogspot.com' title='::goyang ngebor gaya Hari::'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107846710914247086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107846710914247086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107846710914247086' title='::goyang ngebor gaya Hari::'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6561654.post-107823392378121612</id><published>2004-03-02T19:51:00.000+07:00</published><updated>2004-03-05T13:56:17.293+07:00</updated><title type='text'>SIMAK atau DENGAR</title><content type='html'>Tadi siang tiba-tiba boss gede muncul dan berkata "kalian pustakawan harus lebih sering baca koran, saya sepertinya tidak pernah lihat kalian membaca koran". Dua mingu belakangan ini memang sedang dalam masa evaluasi akhir tahun, jadi semua kegiatan staff perusahaan termasuk pustakawan akan dinilai. Sepertinya si boss agak kecewa karena beberapa kali dia mencari informasi dari koran yang kami agak kurang mahfum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami selalu membaca koran, bahkan kami membuat rangkuman berita ekonomi harian untuk disebar, hanya memang kesulitan terbesar yang kami hadapai adalah untuk menyimak. Kami mendengar juga melihat bahkan kalau bisa mungkin mencium bau informasi, tetapi sebagaimana manusia lainnya informasi yang datang lebih lama akan tertutupi (baca=lupa) oleh yang terbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak sangat sulit, seorang teman pernah menulis bahwa yang dia suka adalah menyimak bukan mendengar, memang diperlukan energi yang lebih banyak daripada mendengar. Biasanya bila mendengar, saya bisa sambil ngemil atau ngetik pesan di YM, tapi menyimak? Rasanya agak impossible untuk menyambi dengan pekerjaan lainnya. Setahu saya, diluar konteks perpustakaan, menyimak akan memuaskan sisi lawan karena merasa begitu diperhatikan. Menyimak bukan hanya kuping yang bekerja bahkan gerak-gerik tubuhpun ikut berperan untuk menunjukkan bahwa dia memang sedang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda memang hasilnya antara menyimak dan mendengar, dari sisi waktu saja rasa-rasanya apabila menyimak akan tahan lebih lama, bahkan sekalipun infromasi yang datang tidak dicatat. Hingga bila suatu saat ada seseorang yang meminta pada hal yang berhubungan akan dengan cepat ingat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyannya sekarang perlukah pustakawan menyimak? Tidak cukupkkah dia hanya mendengar atau melihat saja? Apakah harus dia konsentrasi penuh pada setiap berita atau informasi yang masuk? Saya rasa memang perlu, apalagi informasi adalah senjata pustakawan dan daya ingat akan suatu data adalah ujung tombaknya, namun dalam information rush saat ini, kok sepertinya menyimak akan buang-buang waktu saja. Tidak cukup waktu untuk mengetahui sedetail mungkin satu berita/informasi sementara dalam detik yang sama berita/informasi lainnya menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar dan melihat adalah jawabnya, bagaimana agar tidak lupa dan menghasilkan kualitas seperti menyimak? itulah gunanya catatan. Catatan bisa apa saja, dari coretan-coretan ceker ayam di notes sampai arsip berita di Internet atau kliping perpustakaan (baik manual atau elektronik). Dengan itu kami merubah fungsi mendengar menjadi lebih efisien dan tentunya efektif, okelah secara garis besar kami tahu ada perusahaan yang namanya Kasogi atau Indosat misalnya, tapi seberapa banyak produksinya, keuntungannnya siapa saja yang duduk di jajaran direksinya, apa saja jenis produk dan layannya kami pustakawan sangat tergantung dengan catatan. Catatan bahasa kerennya adalah database, dan database tidak mulu berhubungan dengan elektronik. Namun saat ini kalau nggak merubah bentuk manual ke elektronik terasa ketinggalan jaman yah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kami para pustakawan menyimak?....tidak tidak tidak, kami hanya mendengar serta melihat, sisanya kami catat! Jadi harap sabar yah, permintaan data anda sedang kami cari dalam database....aduh tapi maaf tampaknya yang anda tidak minta tidak ada, habis lupa dicatat sih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari &lt;a href="http://www.abhicom2001.blogspot.com"&gt;blognya iman&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6561654-107823392378121612?l=jip94.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.abhicom2001.blogspot.com' title='SIMAK atau DENGAR'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107823392378121612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6561654/posts/default/107823392378121612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jip94.blogspot.com/2004_03_01_archive.html#107823392378121612' title='SIMAK atau DENGAR'/><author><name>moderator</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10940068667710719510</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
