iyah itu....
Kirim artikel
Back issue
barudags
 
Nitip pesen
Nama :
Web Url :
Komentar :
 
800x600 cocoknya

Baca Dulu

selamat datang, teman-teman di blog khusus anak-anak jurusan perpustakaan UI angkatan 94. Segala hal yang berhubungan dengan mereka ada disini. Buat kalian yang bukan anak-anak jip94 yang dimaksud di atas, gak usah minder, apalagi sampe ditutup blog ini. Karena apa? karena di sini kalian enggak akan cuma menemukan teman baru, tapi juga untuk pertama kalinya, kalian akan melihat bagaimana sih blog yang diisi sama lebih dari 25 anak? pasti kacau...Di sinilah kalian akan membaca dan bisa tau (dan semoga lama-lama bisa mengerti), bagaimana suka-dukanya menjadi pustakawan.
Tapi, blog ini terbuka untuk siapa aja, baik yang mau komentar, atau mau nyumbang tulisan, silakan baca keterangan lebih lanjut. Kenapa namanya jip 94? jawabnya simpel aja, karena moderatornya anak angkatan 94, gituw. Tapi selain itu, juga karena anak-anak jip94 itu unik, dari yang paling imut sampe yang tingginya ampir 2 meter ada. Dari yang kayak gerombolan siberat sampe yang kayak papan setrikaan juga ada. Dari yang setelah lulus bisa kerja hingga kepuncak karir *ceilee* menjadi kepala perpustakaan sampe yang nyasar jadi yang lain2nya -ada yang mau jadi pastur, ada yg jadi voluntir ke Aceh gak balik2, ada yang jadi pramugari, malah ada yang sempet jadi model segala- juga ada.
Anak-anak Jip 94 -yang walopun tampangnya toku2 tapi kalo ke Mc.D sukanya pesen kids meal*so what? katanya "anak2", boleh dong*- ini, waktu kuliah sebenernya gak begitu kompak, tapi kebersamaan mereka masih berlangsung hingga detik ini *walopun masih tetep gak kompak2 juga*. Saling menolong, kasih info tentang adanya lowongan2 kerja, kasih info siapa2 yang nikah-melahirkan; sampe ngirim gambar2, joke atau poto2 keluarganya yang walopun lucu dan bikin gemes, terkadang bikin kesel juga karena menuh2in inbox ^_^ lewat milisnya.
So, masih juga bingung nyari2 alasan kenapa gak mau baca blog ini?

 
usefull links
Perpusnas
Library of Congress
Lipstick Librarian
KITLV
 
 
 
 
 
 

Utorok, jún 08, 2004 >

Terjemahan bebas dan kacau dari artikel kiriman Ade. Mudah2an membantu dah malah tidak bikin puyeng…

A Dozen Solutions to All Library Problems

By Walt Crawford
American Libraries Columnist
Senior analyst, Research Libraries Group
Column for April 2004

Untuk menghormati 1 April dan masalah fasilitas perpustakaan, saya ingin memberikan suatu pemecahan untuk menghapuskan permasalahan perpustakaan dan mengakhiri kebutuhan akan bangunan perpustakaan baru, jika kamu mengikutinya dengan tepat.

1. Tiap-tiap perpustakaan yang baik adalah sama. Benar bagi Barnes & Noble- dan tidak semua pustakawan ingin membuat fasilitas mereka seperti halnya Barnes& Nobel? Pertimbangkan berapa banyak kamu akan tabung dengan memperlakukan perpustakaan mu seperti halnya semua perpustakaan lain .

2. Outsource: Laba= Efisiensi= Efektivitas. Kamu outsourced kebanyakan katalogmu tahun yang lalu. Kamu tidak membangun sistem terintegrasi milikmu, menerbitkan
buku milik mu, atau membuat sistim pengrakkan milikmu. Kenapa melakukan pengembangan koleksi lokal, karya2 referensi, atau apapun kecuali sirkulasi? Outsourcing mengambil alih
masalah pekerja dan karyawan yang overpaid; sama baiknya untuk perpustakaan seperti juga untuk bisnis.

3. Ikuti Prinsip Pareto. Pusatkan 80% perhatian dan anggaran perpustakaanmu pada 20% pemakaimu yang mewakili 80% bisnis mu. Puaskan pemakai terbaikmu dan kamu tidak akan salah. Mereka yang ditinggalkan bagaimanapun juga mungkin tidak membayar pajak, dan tidak akan membantu ketika kamu memulai ikrar NPR-STYLE ( AL, Feb., p. 37-39). Lupakan mereka.

4. Beri mereka apa yang diinginkan. Titik. Beli buku bestsellers terakhir dalam jumlah yang sesuai dengan permintaan. Untuk perpustakaan akademis, dapatkan semua full-text jurnal yang dapat kamu usahakan: Para mahasiswa menyukainya. Mengapa khawatir tentang bahan2 yang melayani generasi berikutnya? Kamu akan pensiun pada waktu itu. Apa yang telah mereka lakukan untukmu?

5. Jika koleksi tidak pernah beredar selama 2 tahun, buanglah. Jaga rak itu kosong untu bahan2 yang pemakai terbaikmumu inginkan. Jika tidak ada yang menggunakannya selama dua tahun, koleksi tidak akan berharga bagi para pemakaimu.

6. Jangan pernah menyinggung masyarakat. Siapakah engkau membeli koleksi yang menyinggung anggota masyarakat? Sekali kamu bergerak ke suatu kebijakan koleksi tidak menyinggung, kamu tidak akan harus menjelaskan pada mereka mengapa mereka perlu memperhatikan kebebasan intelektual dan kebutuhan minoritas.

7. Abaikan masyarakatmu. Apakah kamu mempunyai koleksi berbahasa Spanyol untuk melayani masayarakat Hispanic (Latin)? Bagaimana tentang ESL dan program orang dewasa melek huruf untuk membantu anggota masyarakat? Apakah kamu menyelidiki dan melayani kebutuhan masyarakat yang berubah2? Tidak? Kenapa repot2? Kamu yang profesional disini]. Itu mengapa mereka membayarmu.

8. Anak2 masa kini melakukan semuanya dengan komputer, dan mereka tidak pernah berubah. Lihatlah ke rak2.. Letakkan buku2 tentang WiFI networks dan e-book system. "Mutan2" muda itu sekarang tidak peduli dengan buku, waktu bercerita, atau apapun yang tidak ada di ponsel/PDA atau laptop. Tidak akan pernah. Apakah kamu tidak seperti itu 20 tahun yang lalu? Kamu dapat lihat gelombang masa depan: Ikuti itu atau tenggelam

9. Teknologi memecahkan semua permasalahan. Jika teknologi menciptakan suatu masalah, kamu hanya memerlukan teknologi lain untuk memecahkannya. Kamu harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk memperhatian solusi tekhnologi baru.

10. Tetap perhatikan mainan barumu. Berapa banyak dan teknologi dan alat2 baru yang sudah kamu selidiki tahun ini? Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang baru tiap 1 / 2 minggu, kamu akan tertinggal. Kamu bukanlah seperti Luditte bukan? Baru, bagus dan bersinar: Terapkan itu dalam rencana perpustakaanmu.

11. Kamu punya MLS. Kamu dapat berhenti belajar. Apakah kamu benar-benar ingin meluangkan waktu untuk membaca buku - buku yang membosankan? Jika ada yang penting, seseorang akan memberitahumu dan bagaimanapun juga, hanya "mainan baru yang berkilauan" yang akan berarti. Program2 konferensi dan institute adalah alasan2 yang tepat untuk minum dan makan2, tetapi barang yang dipamerkan akan mengajar kamu segalanya yang kamu benar-benar harus ketahui.

12. Lawan stereotipe pada tiap kesempatan. Kamu bisa menaikkan status pustakawan dengan menyediakan jasa profesional dan khusus pada mereka yang sangat memerlukan, tapi bukankah lebih menyenangkan untuk mengeluh? Seperti yang telah didemonstrasikan para pengacara, jalur menuju sukses adalah keluhan terus menerus terhadap stereotype.

13. Terimalah semua hal yang pasti. Terbitan serial yang tercetak sudah mati dan buku yang tercetak sedang sekarat. Tidak ada orang ingin pergi ke perpustakaan. Membaca buku adalah seni yang hilang, dan Google bias memberimu semua yang dibutuhkan seorang periset. Sudah begitu jalannya. Harus diterima.

Itulah semua : Lebih dari duabelas ide ( beberapa bermanfaat dalam dosis kecil) akan mengakhiri semua permasalahanmu ketika diambil ke hal2 yang ekstrim. Nikmati!

moderator @ 11:18 AM


Pondelok, máj 31, 2004 >
Sahabat...

Persahabatanku berawal dari seringnya kami bersama-sama waktu kuliah, saling meminjam catatan, belajar bareng, diskusi, sampai hunting cari cowo yang lucu-lucu...
Kami sering jalan-jalan bareng entah itu ke mall depok, blok m, nonton, sampe nongkrong bareng di danau UI, nongkrongin air danau yang tenang sambil bercerita banyak hal...atau sekedar cari jajanan enak di sepanjang margonda. Bahkan dulu pernah kok kami belajar mancing di danau UI...foto-foto bareng di PSJ...

Kami juga sering ke kos Uci buat nonton VCD bareng-bareng...sekalian numpang bobo siang sekedar ngilangin suntuk aja..bahkan kalo ada kegiatan kami juga suka kok nginep di kos uci...

Sampe akhirnya satu-persatu dari kami punya pacar...hehe.. lucu juga..dan walaupun dah punya pacar bukan berarti kami-kami nggak dekat lagi...Buat kami...sahabat bukanlah tempat mengikat diri dan menutup hubungan dengan orang lain, justru kami sering berbagi cerita mulai dari pacar sampai impian masa depan. Masing-masing dari kami nggak pernah berprasangka buruk satu sama lain dan mungkin ini yang membuat awet persabatahan kami...

Walaupun sekarang kami nggak punya banyak waktu untuk bersama tapi perhatian dan rasa sayang dari seorang sahabat tetep ada...kadang persahabatan kami juga disertai konflik...tapi tetep...nggak akan mengurangi arti persahabatan itu...

Nah...mumpung bicara tentang persahabatan..nggak terasa dah ampir 10 tahun kita semua saling kenal...rasanya seperti baru kemarin mengenal kalian..dan rasanya baru kemarin kita ngikut JK... Semuanya jadi kenangan manis untuk dikenang...dan bikin kita senyum-senyum sendiri ingat semua kekonyolan-kekonyolan yang selalu menghiasi hari-hari waktu kuliah dulu...

Nah sahabatku...sekarang kehidupan dah berbeda....jauh berbeda....dan masing-masing dari kita telah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri, dengan jalan ceritanya sendiri-sendiri. Masing-masing dari kita mencoba membangun kehidupannya, menata kehidupannya dengan caranya sendiri...... jadi apapun segala aral melintang yang dihadapi, masing-masing dari kita pun punya cara untuk menyelesaikannya.... ..... yang harus ingat adalah....aku masih ada...sebagai teman, sebagai sahabat, dengan segala keterbatasan yang aku miliki......cie..

posted by Eka Arei...

moderator @ 4:24 PM


Motiivasi bagi JIP94ers yang hobi menulis nih

--------------------------------------------------------


Ini ada tulisan tentang Endang Rukmana, siswa SMAN 1 Serang yang beberapa waktu lalu dianugerahi "Unicef Award for Indonesian Young Writers". Ada ang menarik dari sisi kehidupannya. Masih 'anget' nih tulisannya, karena baru banget selesai saya tulis (sindrom deadline :D).

Insya Allah akan dimuat di rubrik MUDA Annida nomor depan (terbit Juni), tapi saya ingin terlebih dulu membaginya dengan teman-teman semua. Moga nggak enganggu ketentraman dan kenyamanan milist yak...:)).

wassalamu'alaikum wr. wb.
Dee

-------------------------------------------------------


ENDANG: SERIUS MENJADI PENULIS

Biodata

Nama: Endang Rukmana

TTL: Jakarta, 15 Mei 1984

Pendidikan: SMAN 1 Serang (kelas 3 IPS)

Alamat: via SSRI, Jalan Kenanga No. 99 Kompleks PDK
Blok A, Penancangan, Serang-Banten 42118

Motto: Aku di sini dan Berbahagia

Prestasi:
  Anugerah "UNICEF Award for Indonesia Young Writers" dalam Lomba Penulisan Esai untuk Remaja yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan Unicef (2004).
  Finalis Lomba Menulis Esai "Jika Aku Jadi Presiden…." tingkat SMA se-Indonesia Yayasan Indonesia Maju Bersatu ( 2004).
  Terpilih menjadi salah seorang dari 15 penulis muda Indonesia dalam "Workshop Penulisan untuk Penulis Muda" Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dengan Unicef (2003).
  Pemenang Harapan 1 Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional kategori SLTA yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Al-Irsyad dan majalah Sabili
(2003).
  Juara II Lomba Karya Tulis Non Fiksi tingkat SLTA Balitbang Depag RI Jakarta Pusat (2002)
  Juara III Lomba Penulisan Cerita Rakyat Banten se-Banten yang diadakan Dinas Pendidikan Subdin Kebudayaan Provinsi Banten (2002)

Awalnya menulis untuk kebutuhan hidup, namun akhirnya menjadi keasyikan tersendiri bagi remaja yang ramah dan cerdas ini. Bahkan profesi sebagai penulis akan ia seriusi. Sempat putus sekolah karena ketiadaan biaya pada kelas 2 SMP, kemudian ia bekerja sebagai buruh pabrik untuk membantu menghidupi ibu dan adik-adiknya. Tak lama sang ibu berangkat ke Arab Saudi sebagai TKW. Pekerjaan mencangkul, membersihkan ladang, dan menjaga
koperasi sekolah dijabani Endang agar bisa menutupi biaya hidup. Ikuti deh hasil obrolan Nida dengan Endang.

TAK PANTANG MENYERAH

Remaja satu ini memang sosok yang ulet. Sejak usia 6 SD ia sudah kehilangan ayah. Saat duduk di kelas 2 SMP (ketika itu Endang masih tinggal di Jakarta), ketiadaan biaya membuat ia harus putus sekolah. Ia pun bekerja sebagai buruh di pabrik daur ulang barang-barang bekas dengan honor Rp7000,- perhari. Sebagian besar honor itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adiknya, karena ia adalah anak sulung dari 4 bersaudara.

Saat pindah ke Serang, barulah Endang dapat bersekolah lagi di MTsN Padarincang. Ia jalani dengan gembira meski harus mengulang kembali dari kelas 1. Karena selalu menjadi juara umum, Endang mendapat beasiswa dari sekolah. Ketika duduk di kelas dua MTsN, sang ibu (Endang memanggilnya Emak) pergi ke Arab sebagai TKW selama 2 ½ tahun. Masa tak punya ayah dan ditinggalkan ibu itulah merupakan masa yang amat memprihatinkan bagi Endang dan adik-adik. Dua adik Endang yang masih kecil dititipkan pada tetangga. Sedangkan Endang dan seorang adiknya yang sedikit lebih besar harus mencari makan
dan biaya sekolah sendiri, selama belum ada kiriman uang dari sang ibu.

"Dua bulan pertama sejak Emak pergi ke Arab, saya dan adik saya yang paling besar, menjadikan singkong (pemberian tetangga) sebagai makanan sehari-hari. Kami baru makan nasi, kalau ada rezeki lebih atau ada yang berbaik hati," kata Endang.

"Selain dari beasiswa sekolah, saya juga bekerja mencangkul, atau sekedar membersihkan ladang, juga menjaga koperasi sekolah dengan honor lima ribu rupiah perbulan, membantu guru, dan lain-lain. Sampai akhirnya, atas dorongan seorang wartawan, kelas tiga MTs saya mulai menulis reportase. Honor pertama tulisan saya sebesar Rp36.000,- dimuat di rubrik Aspirasi Fajar Banten. Waktu itu saya gembira sekali, uang sejumlah itu sangat berharga buat saya," kenang Endang yang hobi membaca, menulis, merenung dan berdiskusi.

Sejak itulah Endang semakin giat menulis. "Karena saat itu dengan menulis, saya dapat menghasilkan uang untuk menutupi kebutuhan hidup saya dan keluarga," ujar Endang polos.

SPESIALIS LOMBA

Segala jenis tulisan ditulis oleh oleh Endang. Saya menulis di semua genre, reportase, resensi buku, esai/artikel, cerpen, dan puisi. Dalam waktu dekat
Endang juga akan menulis novel. Tapi untuk sementara ini Endang mengaku memang lebih banyak menulis esai untuk dipublikasi di koran, terutama untuk lomba. Tak heran, di antara kawan-kawan Rumah Dunia (tempatnya banyak beraktifitas, red.), ia dikenal sebagai "Spesialis Lomba".

Selain esai yang banyak dimuat media massa, puisi dan cerpen Endang sudah ada yang dibukukan. Bersama seorang teman sekolahnya, Adkhilni, artikel-artikel Endang juga dibukukan dalam buku "Dari Donat sampai Presiden".

Aktifitas Endang yang lain juga tak jauh-jauh dari dunia menulis. Saat ini Endang dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Sastra "Ketika" Sanggar
Sastra Siswa Indonesia (SSSI) Serang, sebuah program Majalah Sastra Horison dan Ford Foundation. Karena keuletannya dalam menulis, beberapa kali Endang juga diundang mengikuti pelatihan-pelatihan penulisan tingkat nasional, seperti Writing and Publishing Skill yang diselenggarakan Majalah Horison dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) se-Indonesia, serta Pelatihan Penulis Muda dari 6 Propinsi yang diadakan YKAI dan Unicef.

Dari sekian lomba yang pernah diikuti, yang paling berkesan buat Endang adalah lomba karya tulis non fiksi untuk SMA tingkat nasional Depag RI. "Itu adalah
pertama kali saya ikut, dengan kemampuan dan fasilitas yang terbatas. Dan sama sekali enggak nyangka bisa meraih juara kedua," kata putra dari Bapak Hasanuddin dan Ibu Wartih ini.

BECAK DARI MENULIS
Menurut Endang, uang yang didapat dari menulis, baik honor pemuatan maupun hadiah lomba, cukup untuk menutupi biaya hidup. "Saya malah sempat membeli tiga buah becak seharga dua juta rupiah. Lumayanlah, untuk hidup sehari-hari," sahut Endang. Dari lomba yang diadakan YKAI dan UNICEF bulan Mei lalu, dimana Endang sekaligus dianugerahi "UNICEF Award for Indonesian Young Writers", Endang mendapat hadiah uang lima juta rupiah. Mau dimanfaatkan untuk apa hadiah tersebut?

"Uang itu untuk biaya kuliah," jawab Endang. "Soalnya biaya kuliah semakin mahal, makanya saya menyarankan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan dana untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN," usul Endang. Yup, Nida juga setuju, Ndang! Untuk pilihan studi nanti, Endang serius ingin menjadi
penulis. Kenapa? "Sebab menulis (kata Phutut EA) adalah aktivitas yang paling funky dan seksi!" jawab Endang tertawa.

"Mulanya saya ingin kuliah di ilmu sejarah, saya mau jadi esais sejarah seperti Ong Hok Ham. Tetapi orangnya saya kurang telaten untuk hunting data, jadi
kurang mendukung untuk jadi sejarawan. Makanya, saya banting setir mau masuk Sastra Indonesia Tapi, saya tetap suka sejarah."

Oke deh, Ndang, semoga cita-citanya tercapai dan penulis yang berkualitas! [Dee]

moderator @ 7:46 AM


Streda, máj 26, 2004 >

A Dozen Solutions to All Library Problems

By Walt Crawford
American Libraries Columnist
Senior analyst, Research Libraries Group
Column for April 2004




In honor of April 1 and the library facilities issue, I'd like to share a special set of precepts to eliminate library problems and end the need for new library buildings, if you follow them to the letter.

1. Every good library is the same. That's true for Barnes & Noble-and don't all librarians want to make their facility just like Barnes & Noble? Consider how much you'll save by treating your library just like all the other libraries.

2. Outsource: Profit = efficiency = effectiveness. You outsourced most cataloging years ago. You don't build your own integrated systems, publish
your own books, or manufacture your own shelving. Why do local collection development, reference work, or anything except circulation? Outsourcing
takes care of union problems and overpaid employees; it's as good for libraries as for any other bottom-line business.

3. Follow the Pareto Principle. Focus 80% of your library's budget and attention on the 20% of your customers who represent 80% of your business. Satisfy your best customers (the word to use!) and you can't go wrong. Those who get left behind probably don't pay much in taxes anyway, and won't
help when you start your NPR-style pledge drives (AL, Feb., p. 37-39). Forget them.

4. Give 'em what they want. Period. Buy enough copies of the latest bestsellers to fill all demand. For academic libraries, get all the full-text journals you can possibly afford: Students love 'em. Why worry about materials that serve the next generation? You'll be retired by then anyway. What did the next generation ever do for you?

5. If it hasn't circulated in two years, dump it. Keep those shelves clear for the stuff your best customers want. If nobody's used it in two years, chances are it's worthless for today's top customers.

6. Never offend your community. Who are you to purchase materials that offend community members? Once you move to an inoffensive collection policy, you won't have to explain to trustees why they should care about intellectual freedom and minority needs.

7. Ignore your community. Do you have a growing Spanish collection to serve your growing Hispanic population? How about ESL and adult literacy
programs to help struggling community members? Are you investigating and serving changing community needs? No? Then why bother? You're the professional here. That's why they pay you the big bucks.

8. Kids these days do everything on computers and they'll never change. Out go the bookshelves. In go the WiFi networks and e-book systems. Today's young mutants don't care about books, story hours, or anything that isn't on a cell phone/PDA or notebook computer. They never will. Aren't you just the same now as you were 20 years ago? You can see the wave of the future: Surf it or drown.

9. Technology solves all problems. If technology creates a problem, you just need more technology to solve the problem. You need to spend more time
paying attention to new technological solutions-those are the only ones that matter.

10. Keep shifting to shiny new toys. How many neat new technologies and devices have you investigated this year? If you're not hooking up something
new every week or two, you're falling behind. You're not some sort of Luddite, are you? It's new, it's neat, it's shiny: You must work it into your library plans.

11. You have your MLS. You can stop learning. Do you really want to spend time reading boring professional literature? If something matters, someone
will alert you to it-and, after all, it's only the shiny new toys that matter. Institutes and conference programs are great excuses for drinking and dining, but the exhibits should teach you everything you really need to know.

12. Fight stereotypes at every turn. You could raise the status of librarians by providing professional, tailored services to those who need them most-but isn't it more fun to complain about media portrayals of hair in buns, sensible shoes, and shushing? As lawyers have demonstrated, the path to success is constant whining about stereotypes.

13. Embrace inevitability. The print serial is dead and the print book is dying. Nobody wants to go to a library. Book reading is a lost art in any case, and Google gives you all the research anyone really needs. That's the way it is. It's inevitable. Live with it.

There they are: A baker's dozen of deas (some useful in small doses) that will end all your problems when taken to extremes. Enjoy!

Courtesy of Ade Farida

moderator @ 2:57 PM


Piatok, máj 14, 2004 >
Ksatria itu adalah....

Ada beberapa kejahatan yang lebih kejam dari membakar buku di antaranya adalah tidak membaca buku (Jospeh Brodsky)

Pembakaran buku-buku yang sudah terjadi itu merupakan pengulangan sejarah bonfire of liberties (penghangusan kebebasan) yang pernah terjadi sejak masa kedinastian Cina, era Romawi kuno, sampai abad ke-20 lalu di Eropa dan Amerika Serikat.

Pembakaran buku, menurut catatan yang tersedia, telah terjadi ketika Kerajaan Babylonia yang dibangun Hammurabi (2123-2081 Sebelum Masehi-SM), dikalahkan Persia pada 539 SM. Berbagai manuskrip penting hancur akibat perang penaklukan itu. Tetapi, pembakaran buku untuk mencegah pengaruh suatu ajaran (pemikiran) dilakukan pendiri dinasti Qin di Cina daratan, Shi Huang-ti (246-210 SM). Dia memerintahkan pembakaran buku-buku Konfusian pada 213 SM.

Perpustakaan Besar Iskandariah (the Great Library of Alexandria) terbakar pada 47 SM. Ketika itu sang penakluk dari Roma, Julius Caesar, membakar kapalnya yang sandar di pelabuhan agar tak dirampas Mesir yang dikuasai dinasti Ptolemi. Tetapi, kobaran api kemudian juga memusnahkan berbagai bangunan di pelabuhan, termasuk perpustakaan yang disebutkan berisi 400.000 gulung manuskrip di atas kertas papirus. Perpustakaan itu dibangun Ptolemaeus Soter (350-283 SM) di areal pelabuhan Iskandariah untuk memelihara kebudayaan Yunani di tengah konservatisme Mesir.

Pada milenium pertama, Kaisar Romawi Theodosius (378-396 M) memerintahkan untuk menghancurkan Pustaka Besar Iskandariah, yang dibangun kembali oleh Antonius pada 41 SM. Perulangan sejarah bonfire of liberties juga terjadi di berbagai kota di Amerika dan Eropa pada abad ke-20.

Yang menonjol adalah pembakaran buku yang berbau subversif dan tidak berakar pada pandangan hidup Jerman oleh Partai Nazi pimpinan Hitler. Buku-buku dimusnahkan dalam api unggun yang panasnya mencapai 451 derajat Fahrenheit, bulan Mei 1943.

Di Indonesia sendiri pernah terjadi hal yang serupa sekitar Mei 2001 pada buku-buku yang dituduh berbau kekiri-kirian di Bandung dan Jakarta dan hampir-hampir saja meluas lebih besar bila tidak dibatalkan.

Bonfire of liberties di abad modern ini sangat merisaukan banyak ilmuwan. Alfred Whitney (1906-1963), seorang pendidik dan sejarawan AS, dalam bukunya berjudul Esei Tentang Pendidikan, menulis bahwa buku tidak akan bisa dibakar. Ide-ide tidak akan mungkin dipenjarakan. Satu-satunya senjata yang ampuh melawan ide-ide buruk adalah dengan ide-ide yang baik. Dan sumber ide-ide yang baik adalah kebijaksanaan.

Terlepas dari apakah ikut membakar atau tidak tetapi saya merasa menjadi pustakawan adalah seperti seorang ksatria pada abad pertengahan, hanya saja saya tidak mengawal bangsawan atau seoarang raja, namun saya adalah ksatria dengan tugas menjaga pusaka ilmu, sari pati kemanusiaan yang tertuang dalam sebuah kristal dengan nama "buku".

Sadar atau tidak menjadi pustakawan tidak semudah seperti yang dibayangkan oleh masyarakat umum. Tentunya sadar bukan, apalagi saya berbicara dengan anda yang juga berprofesi sebagai pustakawan, atau paling tidak sesuatu yang mirip dengan pustakawan (bintang sinetron tidak termasuk).

Diatas dikatakan bahwa sebuah ide yang tertuang dalam buku tidak mungkin untuk dmusnahkan walaupun secara fisik buku itu terbakar tetapi ide-ide di dalamnya akan terus berkembang, hanya satu saja cara untuk melawannya yaitu dengan memunculkan ide-ide baru yang pastinya lebih baik. Oke mungkin bukan saya yang akan memunculkan ide-ide tersebut tetapi tugas saya sebagai seorang kstaria menuntut untuk menjaga kristal-kristal itu, kelak akan diturunkan pada generasi yang datang karena dengan mereka pasti kristal itu akan beranak pinak.

..."bumi boleh berputar, Sang waktu pun akan terus berjalan. Namun kita, kita akan selalu bersama, Saudaraku. Berperang dan menegakkan bendera kehormatan manusia"...(Nonot Supriyanto dalam cerpen Bendera)

By Iman dr berbagai sumber

moderator @ 9:55 AM

Hujan by Bl@gger